7.31.2019

"The Tale of a Giver" Fashion Installation


Hai hai halo halo hai! Mumpung ada waktu luang pasca sakit beberapa hari kemarin, jadi mau menyempatkan diri untuk menulis supaya tidak menguap begitu saja. Jujur saya pikun meski masih muda, jadi gak pengen banget perjalanan hidupku yang berharga hilang tanpa jejak (aish, drama). Sebenernya cuman pengen update kehidupan aja, khususnya cerita tentang perjalanan bisnis(-bisnis)ku karena memang cuma ini aja yang seru untuk dibahas hahahaha. Penuh perjuangan, keringat, kegagalan, bangkit, dan selalu muter otak terus; beda dengan aspek hidupku yang lain yang mana cenderung flat (ada bagusnya sih, ibarat diversifikasi portofolio investasi, kita kan gak pengen invest di sesuatu yang fluktuatif aja, harus disebar di titik-titik yang cederung stabil dengan return tipis tapi lebih aman hehehe ngomong apa sih curut). So, let the story begins yaa!

Jadi, akhirnya untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bikin Fashion Installation untuk Start From The Bottom (kita singkat aja jadi SFTB ya), brand ku sendiri, di sebuah tempat kece di Depok. Puji Tuhan😊 Disini aku kerjasama dengan brand Earth Major (milik teman baikku, Syifa) dan Artivator sebagai penyedia tempat (dia tuh kafe hits yang ada artspacenya, tempat pertama dengan konsep begini di Depok! Uhuy bangga). Oh iya, mungkin masih banyak yang belum kenal dengan istilah Fashion Installation ya. Installation itu sendiri artinya sebuah bentuk presentasi karya dengan cara yang unik dan interaktif. Jadi sekarang tuh lagi trend, para fashion designers tidak memamerkan koleksinya dengan cara menggelar runway secara tradisional, tapi justru dengan membuat instalasi ini, karena lebih melekat dan membekas gitu di mindset orang. (P.S. silakan diklik gambarnya biar ngeliatnya lebih besar hehehe)


Nah, Fashion Installation kami ini judulnya The Tale of a Giver, menceritakan tentang keinginan kami untuk mengucapkan terimakasih kepada alam dan orang-orang di sekitar atas energi dan inspirasinya, caranya adalah dengan giving back the energy melalui visual yang cantik dan interaktif. Kami pengen setiap pengunjung dan kami bisa berinteraksi, berbagi ide lebih banyak lagi, dan bisa sharing happiness bareng-bareng. Ini beberapa spot di dalam instalasi yang kami buat:
  • Curtain of Happiness: disini banyak kain hasil teknik cetak kain yang digantung. Tujuan instalasi di spot yang ini adalah untuk nunjukkin proses berkarya kami. Warna kain yang penuh corak warna-warni kami dedikasikan untuk memberikan positive vibes untuk orang-orang yang lihat.
  • Flash Universe: nah ini yang seru karena disini pengunjung bisa berfoto dengan latar belakang motif-motif khas SFTB dan Earth Major dengan tembakan proyektor. Ada Dark Mode nya juga lho dengan neon-neon warna-warni yang bikin ambiencenya jadi asik gitu.
  • Know Us Well: Di spot ini ada tempelan foto-foto campaign kami, looping presentation, brand profile, lookbook, yang siap jadi tools bagi pengunjung untuk tahu dan kenal kami lebih jauh.
  • Ada beberapa spot juga di masing-masing brand. Di SFTB ada Friendship Project dan Spin Me Win Me. Sedangkan di Earth Major ada To Touch – To Speak dan Winning Ticket. 



Acara fashion installation ini berjalan selama 3 hari (1-3 Maret 2019), nah di hari Sabtu itu ada live illustration juga oleh Amel, salah satu teman baikku juga yang ketemu dari sejak di ESMOD Jakarta terus jadi kolega pas kerja di fashion designer. Amel ini tangannya ajaib, gambar coret-coret aja bagus hahaha makanya kami undang untuk menggambar setiap pengunjung yang datang di hari Sabtu secara langsung (terbatas untuk 30 orang aja). Tujuannya supaya orang-orang itu punya art merchandise yang bisa mengingatkan mereka akan Fashion Installation kami ini.


Super senang karena banyak variasi pengunjung saat itu; mulai dari strangers, rombongan Abang Mpok Depok, influencers, sampai teman lama yang ribuan abad gak jumpa. Bikin jadi semangat berkarya terus jadinya kalau ketemu mereka. Terus di bulan Juni 2019 ini aku buka program magang untuk pertama kalinya. Dari dahulu kala sudah banyak anak-anak seni rupa dari berbagai universitas di Indonesia yang suka tiba-tiba email kami karena butuh magang. Nah, kini saat yang tepat dan telah bergabung bersama tim kecil SFTB, Tio Elvina, mahasiswi FSRD ITB asal Riau. Di postingan berikutnya aku akan cerita lebih banyak tentang program magang ini termasuk ketika SFTB mendapat kesempatan ikutan We The Fest 2019 bulan Juli kemarin. Sampai hari ini masih gak nyangka kami bisa ada di tempat hits kayak gitu hahaha terhura. Terus aku juga bikin bisnis baru lagi bersama 2 partners lainnya (I'll reveal their names later ya hahahaha sok rahasia gitu biar seru). Bisnis ini konsepnya adalah creative consulting yang merangkap sebagai agency juga. Tapi tetap kami fokus di konsultasinya karena kebetulan kami senang dengan hal-hal yang berbau strategis dan jangka panjang. Akan segera di launch di bulan Agustus 2019, semoga segera terlaksana yaa hehe. Yaudah sekian dulu yaa, mau lanjut kerja lagi soalnya. Semangat selalu untuk semuanya, semoga ada kabar baik hari ini :D

2.21.2019

2019: All About Courage


Hai semuanya! Agak telat nggak kalau ngucapin “Selamat Tahun Baru 2019”-nya baru sekarang? Hahahaha. I don’t care guys, I just want to greet you anyway so Happy New Year people! Aku tahu pasti pada bertanya-tanya dalam hati, ada kabar baru apa di tahun baru ini, Cha? Whoooz lumayan banyak yang ingin kutulis disini. Tapi kita mulai pelan-pelan dari urusan: pekerjaan, rencana lain dalam kehidupan, dan sedikit membahas tentang toxic people kali ya? Yang terakhir emang agak absurd, but it’s a big deal for me, jadi aku akan bahas sedikit juga.

Yuk ah, jangan bertele-tele mari kita mulai saja sharing session-nya. Jadi, di tahun 2019 ini, memang aku mencanangkan tagline “Courage for a Better Life” untuk diriku sendiri. Setelah di tahun 2018 aku merasa terlalu disetir beberapa pihak dan merasa hampir gagal memperjuangkan kebahagiaanku (well, untung enggak gagal ya, kalau gagal bahagia mungkin aku gak bisa nulis ini untuk kalian), jadi di tahun 2019 ini aku pengen lebih berani dalam membuat keputusan hidupku. Sudah dimulai dari akhir tahun 2018 nih untuk urusan ini, dimana akhir November 2018 aku memutuskan untuk resign dari tempat kerja ku yang terakhir. Nyesel kah Cha? Nope. Bahagia? Yap! Alasannya apa, Cha? When I finally decided to walkout, it’s caused by more than a mere reason. It’s an accumulation, instead. Salah satunya adalah aku tidak melihat diriku bahagia disitu, aku merasa tidak bisa bertumbuh lebih, dan aku merasa tidak berdaya untuk memberi dampak positif bagi lingkungan kerjaku. So that’s why 😊 Puji Tuhan, keluarga terdekat, pacar, dan sahabat-sahabat ku selalu memberikan dukungan terbaik. Jadi sekarang aku memutuskan untuk fokus di bisnis fashion ku sendiri dibawah bendera Start From TheBottom (FYI aku vakum dari brand ku ini selama 1,5 tahun aku kerja di kantor, karena memang tidak diperbolehkan punya side business apalagi di bidang fashion juga). Bersyukur sekali karena ketika berkarya lagi melalui bisnis ini, apresiasi dari masyarakat ternyata sangat baik. Aku berusaha ambisius dalam menjalankan bisnis ini dan aku banyak mengaplikasikan terobosan-terobosan yang aku lakukan selama bekerja di fashion designer sebelumnya. Banyak tawaran untuk ikut pop-up terkemuka di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, ada tawaran untuk bekerja sama dengan Fashionhub (milik Jakarta Fashion Week), ada bantuan fashion photography dari majalah indie di Yogya, dan banyak peluang lainnya yang sangat aku syukuri. Dalam jangka waktu dekat, SFTB akan berkolaborasi dengan brand Earth Major (brand ini milik teman baikku, yang sama-sama juga pernah bekerja bareng aku di kantor sebelumnya) untuk membuat sebuah Fashion Installation di Artivator, sebuah kafe dan artspace pertama di Depok. Mohon doanya semoga semuanya lancar yaa, aku senang sekali ada project ini, karena kupikir awalnya yang bisa buat Fashion Installation tuh cuma brand ternama aja. Tapi puji Tuhan, sekarang ada jalannya.

Terus rencana selanjutnya gimana Cha? Saat ini masih ingin menekuni bisnisku, masih banyak banget yang bisa diulik dan memang aku butuh ruang untuk berkarya. Tapi tidak menutup kemungkinan kalau aku mungkin juga akan cari pekerjaan lain di kantor. Setelah sempat kerja di fashion designer, ntah kenapa sekarang pengen cobain kerja di fashion e-commerce. Kayanya bakal seru kalau aku bisa kuasain ini juga ya, but we’ll see hehehehe. Terus aku juga ada dorongan dari orang tua untuk melanjutkan studi S2, jadi aku juga tengah memperjuangkan itu melalui beasiswa-beasiswa dalam dan luar negeri. Intinya gak mau bikin susah orang tua (meskipun mungkin mereka gak pernah ngerasa aku nyusahin but still).  Jadi mohon doanya juga untuk yang ini karena banyak yang harus diurus jadi kadang overload sendiri hahaha. Terus ada lagi nih, aku lagi pengen nantang diriku untuk lebih banyak public speaking di tahun ini. Eh kesempatan itu datang dari teman ku yang ngurus BritZone, sebuah komunitas berbahasa Inggris terbesar di Jakarta, dia mengundang aku jadi speaker untuk bulan Maret nanti. Temanya dibebaskan ke aku yang penting sesuatu yang aku cintai (hahaha gampang banget nebak materi yang bakal aku bawain nanti ya kayaknya). Doakan semoga cecurut ini bisa membawa banyak insight baru untuk teman-teman diluar sana yaa! (I hope to see you there! Aku jadi speaker hari Sabtu tanggal 23 Maret, please mark your calendar *wink*)

Nah topik terakhir tentang toxic people nih. Bahasa Indonesianya mah “orang beracun”, beracun dalam arti kalau ada dia, aku ngerasa tidak nyaman. Mungkin karena perbedaan tata krama, cara berpikir, cara ngetreat orang lain, cara bertutur kata, melakukan "gaslighting"* terhadap aku dan orang disekitarku, dsb. Banyak sih faktornya. Tapi intinya, ketika ada orang ini, aku yang tadinya happy bisa langsung suram, langsung ngerasa worthless, langsung ingin ngucap dalam hati “ada ya orang sejahat/seburuk ini?”, langsung ngerasa murka, drained, apapun itu lah. Ada ya Cha orang seperti itu? Ada. Sedikit memang, tapi berdampak. Makanya di tahun 2019 ini aku block & mute beberapa orang yang seperti itu Instagram dan Twitter. Beberapa dari mereka ada yang bertanya-tanya (dengan kalimat-kalimat kasar) alasan kenapa aku ngeblock/mute mereka. Well, ekstremnya sih those guys are responsible for my suicidal thoughts. Iya, udah sampe separah itu, jadi please, buat yang masih bertanya kenapa kenapa kenapa, semoga dengan ini kalian bisa paham alasannya. Mari kita hidup di kehidupan masing-masing, aku gak pengen tahu lagi tentang kamu, dan aku harap sebaliknya juga demikian. Semoga urusan kita masing-masing dilancarkan ya, dan yang terpenting semoga kita sama-sama bisa introspeksi diri supaya kalau di masa mendatang ternyata harus berjumpa lagi, kita sudah jadi manusia yang jauh lebih beradab.

*istilah gaslighting itu aku baru tau juga dari influencer di Instagram, thank you for letting us know about this. Ini ngeri-ngeri sedap pas baca artikelnya, karena hampir semuanya aku rasakan dari toxic people itu.

Sekian! Sampai jumpa di post selanjutnya ya, take care, people!

12.19.2018

25 Advices Before You Turn 25


Hello people in this land called blog, akhirnya ada kesempatan (dan kemauan) untuk ngeblog lagi nih. Sempet mau nulis tentang pengalaman ikut WCCE 2018 (sebuah konferensi ekonomi kreatif di Bali) yang sensasional itu tapi terlampau malas karena udah banyak aku share juga kurang lebihnya di IG story hehehe. Jadi beberapa hari yang lalu sempat nanya ke teman-teman di Instagram tentang topik apa yang enak dibawain sebagai penutup tahun. Salah satu dari mereka membuat ide cemerlang dengan menyarankan aku bikin topik ini. Isinya benar-benar nasihat tentang kehidupan, seputar kehidupan percintaan, karir, hubungan dengan keluarga, friendship, dan hal-hal lain yang aku pelajari selama 24 tahun hidup di dunia (omo tahun depan udah 25 wadidaw). I just hope that each of you can enjoy these receh advices from me 😊

25 Advices Before You Turn 25
  1. Jika ada waktu dan kesempatan, ayo kejar ilmu setinggi-tingginya lewat sekolah dan sertifikasi. Di dunia professional, pendekatan secara formal lewat edukasi yang kamu kenyam akan sangat membantu. Aku bisa makin yakin di industri kreatif karena pernah ambil one-year course di ESMOD Jakarta setelah lulus dari SBM ITB, disana bisa belajar langsung jadi desainer dan jadi punya kesempatan lebih besar untuk kerja bareng fashion designer.
  2. Ayo belajar investasi sejak dini. At the very least, kita harus tau instrumen investasi tuh apa aja. Jangan anggap investasi itu adalah ilmu yang hanya mampu dimengerti lulusan finance ya, it’s just a myth! Coba follow @jouska_id deh biar makin tercerdaskan hehehe. 
  3. Cintai badanmu. Kita kerja keras sampai telat makan, sekalinya makan malah makan junkfood, gak sempet olahraga, begadang setiap hari, stres menahun, terus sekarat. Kamu yakin mau hidup menyedihkan begitu?
  4. Vokal. Utarakan isi otak dan perasaanmu. Most of people are not mind readers.
  5. Sebisa mungkin jangan terlalu khawatir soal karir. Yang penting do what makes you happy and fulfilled. Supaya apa? Supaya betah kerja meski gak dapet uang lembur, hari Sabtu tetap masuk kerja, minim apresiasi dari atasan, career path gak jelas, atau hal-hal lain yang bisa banget bikin kamu cepat resign atau menyerah sama bisnismu. Kamu harus cari hal yang membahagian kamu di tempat kerjamu. Kalau udah dicari sampai mentok ternyata gak ada yang bikin bahagia (lagi), ya berarti kebahagiaanmu ada di tempat lain. Hehe.
  6. Update CV secara berkala, atau di zaman digital ini ya update LinkedIn mu. Kamu gak tau kesempatan apa yang akan datang dari situ.
  7. Kalau memang mau, ya cari tahu.
  8. Doa itu sebaiknya cukup spesifik.
  9. Harus cobain hidup jauh dari keluarga. Ntah kuliah di luar kota, kerja di luar negeri, bebas. Dengan begitu kita akan belajar lebih mandiri dan bisa lebih memaknai kata “pulang”.
  10. Nikah bukan solusi. Jadi ayo mumpung masih belum menikah ini waktunya kita melakukan banyak aktualisasi diri secara leluasa hehehe.
  11. Usahakan punya teman dekat atau masuk ke suatu komunitas/organisasi. Kamu pasti butuh seseorang (ntah sebagai pengingat, pemacu semangat, role model), jadi jangan biarkan dirimu berjalan sendiri.
  12. Ikuti acara-acara (termasuk konferensi, bazaar, workshop) yang berkaitan dengan minatmu. Kenali pemain-pemain di industri tersebut. Sedikit banyak pasti akan membantumu di dunia kerja.
  13. Freelancing is OK! Trust me, you can make a living out of it.
  14. Kalau lagi mumet banget sama kerjaan kantor ya gak usah masuk aja sehari. Pura-pura sakit hehe.
  15. Kalau lagi gak mau banget diganggu malam-malam sama bos ya gak usah bales chat atau teleponnya. Kan bisa pura-pura tidur hehehe.
  16. Kalau lagi ngumpul sama keluarga, perbanyak ngelawak dan bikin orang tua ketawa ya. Senyum dan tawa renyah mereka akan jadi sumber semangat bagi hari-hari kita yang carut-marut.
  17. Everyone deserves a second chance.
  18. Jangan lupa pakai sunblock ya. Ini investasi yang baik untuk kulit.
  19. Kalau pasangan kita udah ogah-ogahan, jangan paksa mereka untuk stay. Let them go dan fokus pada kebahagiaan dan aktualisasi diri aja. God will make them regret just in time. 
  20. Jangan banyak berasumsi, nanti jadi luka sendiri.
  21.  Jangan takut berbuat salah, jangan gengsi meminta maaf.
  22. Tulis, tulis, tulis. Tulis apapun untuk membantu kamu mengingat, menyusun pikiran, menuangkan pendapat, mengatur emosi, dan merancang strategi.
  23. Perbanyak baca artikel, koran, dan buku. Most business founders and business leaders out there are readers. Tentu yang ada dibuku masih butuh penyesuaian dengan yang terjadi di realita, but at least we have the foundation, rite?
  24. Buy your parents a simple gift. Atau setidaknya traktir mereka makan atau nonton (atua hal-hal lain yang receh juga gak apa-apa). These small things mean the world to them so let them know that they are loved.
  25. STOP. COMPARING. YOUR. LIFE. You are one of a kind.

8.22.2018

What My Lover Taught Me About: Fight


Hi everyone! Disela-sela kerjaan yang semakin membabi buta (which sadly I can’t really enjoy doing it lately, mungkin karena ada beberapa hal yang menyalahi cara berpikirku), izinkan aku meracau sedikit disini hahaha. Hitung-hitung melepas penat juga sih. So, can we start?

Jadi gini, di umur-umur segini, setiap kali ketemu teman wanita untuk ngobrol, biasanya aku suka dibombardir sama pertanyaan-pertanyaan seputar hubungan ku dengan pacar. Nah the most frequent question yang suka dilontarkan adalah: “Kalian suka berantem gak sih?” Nah loh, biasanya yang nanya gini kepo bagaimana caranya keluar dari momen-momen berantem saat pacaran.

Mereka berharap aku bisa kasih solusi kalau memang aku suka berantem sama pacarku. But I have to say that aku jarang banget berantem. Sejarang itu. Big fights are rare to occur. Karena? Karena dianya sabar menghadapi aku yang drama queen. Sesabar itu sampai aku kadang suka bertanya-tanya sendiri ini pacarku manusia apa bukan. Tapi gini, dia itu ESTJ, aku INFJ. Dia Leo, aku pisces. Dia bekerja di jalur hukum, aku di industri kreatif. Dia anak kedua, aku anak pertama. Dan, masih banyaak lagi perbedaan signifikan diantara kami berdua. Yang membedakan adalah dia sosok yang mau membuka pikiran dan hatinya untuk segala jenis perbedaan. Dia malah senang belajar tentang hal-hal baru yang melekat pada kehidupan ku. Dia juga tipe orang yang sama sekali gak masalah kalau dikritik (selama masih masuk ke logikanya, dia justru akan dengan senang hati dikritik). Pernah suatu ketika, saat LDR menghadang, kami kontakan terus melalui telepon. Tapi ada suatu kondisi dimana dia gak bisa fokus ngobrol di telepon sama aku karena sambil ngobrol gitu dianya sama temen-temen satu kosan. Lalu mengamuklah drama queen ini, kira-kira percakapannya gini,

A: Co, kita tuh bisa telponan gini susah. Sinyal Depok-Mandailing Natal tuh suka putus-putus. Kamu mbok ya hargain dong kalo kita lagi on call, fokus sama aku dulu. Teleponan juga gak seharian. Apa susahnya sih? (suara bergetar bak ingin menangos)
B: Maaf ya Cha, aku lagi main-main di kamar teman kami soalnya. Ini aku ke kamar ku dulu deh. Sebentar ya Cha (dengan suara tenang)
A: Kalau mau ngobrol-ngobrol sama temen-temen ya silakan aja. Tapi satu-satu gitu lho, jangan akunya dicuekin dan kamunya asik ngobrol
B: Aku minta maaf ya Cha. Aku akan berusaha gak ngulangin lagi kedepannya. Maafin ya, Cha.

Udah. Sebetulnya itu simpel, tapi he said it nicely and seemed to mean it. Terbukti dia sampai sekarang kalau timing ngobrol sama teman-temannya bentrok sama waktu teleponan kami ya dia bilang ke aku. Semacam ngasih info biar aku gak shock dan minta izin. Sebenarnya yang penting buat ku adalah ketika dia memposisikan aku sebagai orang yang cukup penting dan dia mau menghargai koreksi dari aku. It’s more than enough karena siapa sih yang gak pengen dianggap?

Sejujurnya, aku pun terus belajar sampai sekarang, gimana caranya bisa mencoba sesabar dan sepengertian dia. Tapi garis besar yang bisa aku tangkap adalah, yang penting kita punya empati terhadap apa yang dia rasakan. Trying to fit in their shoes to know what they feel. Dan, yang paling penting adalah jangan self-centered dan egois. Kayak di kasus diatas, kadang dia mau mendahulukan ngobrol sama teman-temannya ketimbang sama aku, that would be fine for me. Karena dia pun sudah ngasih tau, minta izin, dan aku ngebayangin kalau di posisi dia dan ternyata dilarang sama pasangan tuh rasanya pengen ngamuk sih. Huek.

Jadi, balik ke pertanyaan awal, kalau ditanya sering berantem apa enggak, no, jarang. Biasanya kalau udah debat dikit aja, salah satu diantara kami langsung mencoba cari win-win solutionnya. Dan aku, sebagai drama queen, berusaha gak membiarkan dia menebak-nebak kesalahan dia yang menyakiti aku hari itu. Dikasih tau aja secara jujur apa yang meresahkan hati karena aku tau dia bukan peramal yang bisa menyelami pikiran yang kadang suka moody gak jelas, ditambah dia orangnya logika banget, kadang mungkin dia mikir harusnya aku gak perlu kesal/sedih/kecewa. Tapi da gimana ya aku anaknya mudah baper. Ha.

Yaudah sekian aja dulu, semoga tulisan ini sedikit banyak membantu kalian dalam memperlakukan orang yang kalian sayangi. Wish your relationship is going well and full of blessing! Smell ya later!

6.05.2018

Update Kehidupan di Pertengahan 2018


Gila, udah pertengahan tahun aja lho! Perasaan baru kemarin kick-off meeting awal tahun di Anyer! Time flies so freakin fast! Btw, aku lagi gatel pengen cerita tentang kehidupan. Padahal gak ada juga yang baca, tapi aku gak peduli sih sayangnya hehehehehe. Agak sotoy emang anaknya. Ini sebenernya lebih pengen ke update tentang kehidupanku, supaya aku di masa depan gak lupa akan apa yang terjadi, akan alasan yang tersembunyi dibalik pilihan-pilihan yang aku buat, dan untuk mengenang memori tentang perjuangan.
-------------------------------------------------------------------------- 
So now, let’s talk about my job again, maybe? Tentunya dalam bekerja sempat bosan ya, bahkan ketika aku sudah bekerja di industri yang aku senangi. Kurang lengkap apalagi coba? Aku suka fashion dan bisnis, Tuhan kasih sebuah fashion company yang punya system manajerial cukup mapan sebagai ladang aku mencari ilmu. Nyobain jadi textile illustrator, pernah. Jadi production team, pernah. Jadi marketer, pernah. Termasuk ngurusin B2B dengan international buyer, pernah. Terus sempat stagnant tuh saat aku disuruh pegang sosial media beberapa bulan. Rasanya agak bosan karena kurang challenge dan cenderung repetitive gitu pola kerjanya. Then guess what? Terhitung bulan depan, aku akan pegang posisi Sales Strategist. A new role again! Dan gak tau kenapa, rasanya kok berapi-api lagi. Karena memang selama hampir setahun kerja di fashion company ini, hal terseru datang ketika bisa berinteraksi langsung dengan para client. Melayani mereka dengan hati, memberi saran dengan jujur, dan ketika mereka beli barang lalu menyatakan puas terhadap produk dan layanan yang diberikan, rasanya ikutan senang. Apalagi kalau berhasil me-maintain client untuk tetap loyal dan mendengar what they really want with our clothes as medium. Rasanya all the hard work paid off! Serunya lagi adalah, as Sales Strategist, udah gak lagi cuman mikirin 1 brand aja, tapi all brands (including ready-to-wear and couture). Oh people, trust me, I love new challenge, and this is an answer to my prayer!



--------------------------------------------------------------------------
Nah, nextnya ngomongin apa ya. Mungkin lebih ke tentang finansial. It feels great to finally find a rhythm to save money, to invest money, and to allocate money properly. Senang bisa ikut bantu bayar-bayar kebutuhan rumah tangga. Senang bisa langganan Spotify dan Netflix tanpa minta papa mama. Senang kalau bisa nabung minimal 20% setiap bulannya. Senang bisa ngasih uang ke adik sebagai modal bisnis dia. Senang bisa punya alokasi dana untuk investasi (tapi belum direalisasikan, karena belum sempat mencermati what kind of investment that suits me). Intinya lagi senang karena bisa disiplin sama keuangan sendiri. Semoga bisa bertahan seperti ini terus, hehehe.



--------------------------------------------------------------------------
Terus, pastinya gak akan ketinggalan pengen ngomongin calon hakim favoritku, yang dari bulan ke bulan kalo ngirim foto seperti terlihat semakin gemuk ya ahahaha. Anyway, dari curhat-curhat via chat dan telepon yang selama ini kami lakukan, aku bisa menyimpulkan bahwa pekerjaan hakim itu risky sekali ya. Kadang agak bingung malah sama yang pekerjaannya memrioritaskan sosial / melayanai masyarakat kayak hakim, polisi, dokter, guru, dll gitu. Otak bisnis ku kadang melihat itu sebagai kondisi yang tidak win-win. Gini deh, hakim itu pekerjaan risky karena putusannya. The worst case I can think about is, ketika putusannya dirasa tidak adil oleh sekelompok orang, maka keamanan dia dan keluarganya akan terganggu. Padahal, hak kesejahteraan hakim belum 100% diberikan oleh negara. Jadi, apa yang menarik dari menjadi seorang hakim? Kadang aku suka nguji dia dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu, mengritisi sisi humanisnya. Dan selalu ia kembali dengan jawaban ia bangga mengemban tugas mulia sebagai wakil Tuhan untuk menegakkan keadilan di dunia yang terasa pincang. Terus aku tanya lagi, “tapi terus kalo gak sejahtera hidupnya gimana?Kamu sendiri aja gak sejahtera, apa bisa memperjuangkan kesejahteraan orang lain?” Guess what? Dia pernah kasih ayat paling relatable yang pernah gue baca: “berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya” – Amsal 10:22. Ayat penuh makna yang intinya ingin bilang, berkat dari Tuhan adalah kekayaan sejati yang didalamnya kita akan berbahagia menikmatinya. Mau kerja keras kayak kuda, kalau memang tidak diberkati Tuhan, mungkin kita tidak akan pernah bahagia atas apa yang didapat. Seperti itu kurang lebih hehehe. Kami percaya, ketika mengandalkan Tuhan dan bekerja dengan passion serta ketulusan, Ia pasti akan kasih berkat melalui cara apapun. So I embrace every possibilities that may come to us, yang penting dilalui bersama-sama dan dilandaskan akan kasih Kristus.  

Aku gak bercanda, dia gemukan! Tapi senang, jam tangan yang kukasih berguna dan dipake dan cucmey sama dia! Yay!

 E N D

3.22.2018

m o m e n t u m

Mohon maaf gambarnya jadi kecil, ini karena template blog ku yang minimalis haha. 
Silakan diklik gambarnya untuk memperbesar tampilan gambar. Enjoy!






1.01.2018

Farewell 2017!

Happy New Year for all blogwalkers!  Hope that you guys are doing well and have the most relaxing holiday like I do. I’m writing this blog in Banjarmasin, sitting on my grandpa’s couch, snacking peanuts and Christmas cookies, while listening to hustle bustle of the street. Oh how I love this situation so much when I can peacefully live the present and being close with my family. Really, I do not know how to say it logically, but I think I’m a melancholy-Pisces (plus an introvert) at heart who adore peace and intimacy. Someday I wish I can spend my old days far from the city, probably in one the villages in New Zealand. Painting, cooking, and reading books with my loved ones. But, to afford it, I must live in my rushing-young-adult moment. If you want me to mention 3 highlights of 2017, I may say: get into my dream job, build a healthy relationship, and overcome depression. I want to share a bit details to all of you so let me do the story telling.

After 1 month of internship in MMAC Group (a company founded by Mel Ahyar, one of the most prominent fashion designer in Indonesia, and her smart husband, Mas Arie), I got offering to continue as a full-time employee through a “Take Off” program with 4 other girls. Basically, this program is similar to MT program in other companies, there are classes, trainings, and assessments for 5 months. Sounds boring, eh? Because I haven’t told everything yet! My excitement started when I was assigned in Happa (one of MMAC brand, focusing on women’s wear, inspired by culture) as marketer, copy writer, and textile designer. Yes! So many roles! And I like it being busy. I can still clearly remember my first-time Happa’s private show in Terrarium Rooftop Kuningan, my first-time do composition for fabric printing, my first-time fabric sourcing, my first-time serving high-end clients, my first-time overtime (which is now become a habit, lol), my first-time making printed fabric from scratch, my first-time making press release, my first-time handle daily instagram content, and another first-time I went through. I was also selected to be the chief of event (as well as chief of marketing) for annual festive sale which is quite a load to bear. These pain-in-the-ass of the so called “Take Off” program finally over and per January I am officially a full timer but no longer work for Happa but Mel Ahyar First to hold bigger responsibilities. Can’t wait for new challenges to come!

Now, it’s time to talk about my romance. Honestly, having relationship with this guy is the least dramatic relationship so far. It’s not about that he’s very patient or me giving up on things but more about both of us, in explainable ways, adjust our mind, heart, and behavior to create a peaceful relationship. As a human being, of course we have different thoughts and we must argue sometimes. But in the end, we respect each other’s perspective and try to merge them to eventually widen our way of seeing. Having this healthy relationship is also a blessing that I believe only come from God. I don’t know, I feel like God loves us when we’re together, so maybe that’s why. We support each other career of course. He never complains when I have so many things to do at work (which in contrary have less time for him), pour me with love when I’m about to give up, support me whenever I feel unable to accomplish my job. Both of us believe that God's plan on us is great. It's only because of Him that he is able to get his career as a judge in The Supreme Court of the Republic of Indonesia. The moment when he received the announcement, we were having a dinner so I was the first to know about the good news. With his teary eyes he praised the Lord then hugged me. I couldn’t ask for a better scenario, thank God :)

Lastly, this is the thing that I’m actually not comfortable of sharing it online. But you guys should know that my life sucks sometimes. The worst is when I had family issues. A deadly combination of pressure and a bitter fact. I have no one to share at the moment because I want to keep it secret. I don’t want to share burden; not to my parents, my brother, my boyfriend, nor my closest friends. So, I hide the issues deep within me until I got depressed and lost the light of hope. Sometimes, an idea to commit suicide came across my mind. Then I started to think that I need to tell this to my boyfriend and closest friends (I even shared my lame stories to strangers too. I did it to let my anger and disappointment go). Surprisingly they were very supportive and did not judge me for my ridiculous tendency to end my life. If they were not there for me, maybe I was not able to write this. So, whoever read this with a heavy heart, depression, a load that you can’t keep yourself, please know that, yes you can’t bear it on your own. You need to share whatever it is. No matter how awful your problem is, I have mine too. When you want to share a story, I’m here to listen. Oh! And one trick: Even when it’s hurt, try to have persistent talk to God. It may seem that He doesn’t listen but He’ll answer gracefully. If He can help me, He can help you too, trust no one but Him. 

So, that's all about my highlights. Not everything was going well, but I believe there's a rainbow after the rain and day by day, I transform into a better fighter.
"A strong person is the one who knows how to be quiet, shed a tear for a moment, and then picks up their sword and fight again"

8.22.2017

Perkenalan

Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Jadi, saya bermaksud berbagi sedikit cerita tentang siapa dia dan mengapa dia begitu berarti sampai-sampai saya harus membuat satu post khusus di blog ini. Tuhkan, pada melotot ngeliatin layar monitor, hehehe. Biasa aja kali, take it easy. Tarik nafas....hembuskan pelan-pelan. Kita mulai sekarang ya.

Pertama-tama, saya kenalin dulu. Namanya Erico. Nama panjangnya Erico Leonard Hutauruk. Keluarganya panggil dia Ico / Iko. Saya panggil dia Rico. Kalau saya lagi pengen manja sama dia, saya panggil dia Ikobana. Ikobana tuh padahal nama salah satu tenan penjual kain di Pasar Mayestik. Orang yang berkecimpung di dunia fashion pasti tahu haha. Ok skip. Erico itu pasangan saya, yang Tuhan pertemukan secara ajaib melalui sosial media. Saya belum mau ceritain gimana pertemuan kami di sosial media yang ajaib (dan rasanya agak geli kalo diinget) karena rencananya tulisan mengenai itu akan dibuat untuk merayakan anniversary kami nanti (we've been dating for 6 months anyway hehehe). And talking about God, Tuhan itu benar-benar Maha Mengerti ya. Saya awalnya memang punya sederet list kriteria seperti apa pasangan idaman saya, saya akuin hampir semua dari list itu mengarah pada kriteria fisik dan hal-hal yang setelah saya sadari ternyata….agak receh yha. Guess what? Tuhan sempat kasih orang yang memenuhi 9 dari 10 list itu.

AND...
Turned out hubungan saya sama orang itu fana banget.

Kesalahan itu bukan terletak di orang yang Tuhan sodorkan untuk saya, namun di kriteria yang saya panjatkan dalam doa. Saya jadi paham, ketika mendoakan pasangan itu gak boleh main-main dan usahakan jangan terlalu naif. Untuk memiliki hubungan yang dalam dan kuat, selain beralaskan pada Tuhan itu sendiri, juga harus didukung oleh karakter pasangan kita. Dan waktu itu saya lupa berdoa untuk memiliki pasangan dengan karakter yang saya inginkan (dan sekiranya bakal balance sama saya). Setelah berhasil menata hati dan merevisi kriteria. Saya berdoa lagi dan munculah sosok ini di hidup saya (tring!) (kok jadi kayak sulap). Sosok yang mau bersama-sama saling menguatkan di dalam Tuhan. Sosok yang selalu menjadi air ditengah api yang kerap membara di hati saya. Sosok dengan kesabaran yang tak berkesudahan dalam merespon saya yang masih suka jadi drama queen dan childish. Sosok yang menghormati saya sebagai perempuan, termasuk menghargai hak dan cita-cita saya. Sosok yang terbuka dengan berbagai ilmu pengetahuan, termasuk mau belajar memahami dunia dan keilmuan saya. Sosok yang mendorong saya untuk berkembang lebih jauh. Sosok yang gak marah pas saya banyak nanya tentang dunianya, karena baginya dengan kami saling berbagi dan menceritakan dunia kami, in some ways bisa membuat hubungan kami semakin kaya akan makna.

Erico itu keturunan Batak-Cina yang tumbuh besar di Cirebon, kuliah di Yogyakarta, dan kini mengadu nasib di Jakarta. Jujur sepanjang saya hidup, gak pernah kepikiran bisa punya pasangan seorang associate lawyer karena di otak saya yang terbayang ketika dengar pengacara tuh sosok yang kaku, suka berdebat, keras kepala, dan banyak tipu muslihat. Tapi yang bikin saya jatuh cinta adalah he is not like the rest of them, dia seorang praktisi hukum dengan habit yang tidak suka berdebat. Sebaliknya, pendekatannya adalah melalui jalur diskusi dan pemaparan fakta. Dia terapkan itu ketika bekerja maupun ketika lagi berbincang dengan saya. Pembawaannya tenang dan ringan. Termasuk ketika saya lagi sangat emosi sampai menangis, dia tetap tenang, dan melakukan jurus andalannya: ngepuk-puk kepala saya. Kyubi di dalam diri saya pun melunak kalau sudah begitu. Orangnya lugas, jujur, jauh dari tindakan yang penuh tipu muslihat hahaha (udah kayak slogan channel berita).

Oiya, kalau kalian ketemu dia. Mungkin kalian mengira saya lagi pacaran sama anak SMA (padahal, dia 2 tahun lebih tua dari saya!). Dengan muka saya yang juga kayaknya gak dewasa-dewasa amat, mba-mba UNICEF di mall yang minta kami mengisi survey pernah percaya pas saya bilang saya SMP dan dia SMA. Tapi mukanya emang awet muda, entah susuk apa yang dia pakai. Mukanya adem, enak buat diliat lama-lama. Terus nanti saya tiba-tiba malu sendiri karena tanpa sadar saya ngeliatin dia gak pake ngedip. Oiya, satu hal lagi yang khas dari dia, dia itu sangat mencintai Indonesia. Orang yang menghargai leluhur dan budaya bangsa ini. Selain senang nonton siaran ulang pertandingan bola di Youtube, dia juga suka nonton video orang lagi memainkan alat musik daerah.

CAN YOU IMAGINE THAT SORT OF THING? At first, saya juga gagal paham.

Sosok yang inspirasional buat dia adalah Tan Malaka dan Soe Hok Gie. Dan! Kalau dia lagi make baju batik emang gantengnya jadi berkali-kali lipat, cocok banget. Dia juga salah satu kolektor syal dari kain nusantara. Salah satu cita-cita dia tuh bisa ke menjelajahi seluruh pelosok Indonesia dan berkontribusi penuh untuk ibu pertiwinya ini. Dia biasanya bakal agak naik nada bicaranya kalau saya dengan arogan lebih membanggakan negara lain daripada Indonesia (hehehe, ya gimana ya, bitter truth sih emang #teteup). Gak nyangka sih saya yang mindsetnya luar negeri bisa akur sama orang yang nasionalis begini. Namun, segala kekurangan kami selalu bisa diatasi dengan sifat dia yang pengayom dan penyabar, yang eventually menyeret saya untuk mulai berperilaku demikian. Saya gak tahu bagaimana Tuhan membentuk dia melalui kehidupannya yang terdahulu, hingga dia bisa mencapai titik ini. The way he deals with differences, the way he controls fear and anger, the way he solves problems, the way he gives me challenges (to come up with a better solution), the way he radiates positive vibes, all of them are fascinating to me and sometimes even seems beyond common sense. Dia itu kayak manusia yang abis bertapa bertahun-tahun di Gunung Tibet terus keluar-keluar udah jadi "manusia baru". Kadang saya suka berkhayal sih, pengen menjelajahi waktu dimana dia masih lebih muda dan (katanya) nakal. Tapi yang pasti, saya bersyukur dipertemukan sama laki-laki ini ketika dia sudah jauh berubah dan saya juga sudah gak seburuk dulu hehehe. 

Lastly, untuk menutup postingan kali ini, sekali lagi saya ucapkan selamat ulang tahun dari lubuk hati yang terdalam untuk Ikobana. Terima kasih sudah menjadi anak Tuhan yang baik selama ini. Semoga di tahun-tahun selanjutnya Tuhan selalu memberi kamu kekuatan jasmani, hikmat, dan rejeki. Semoga rencana-rencana kamu yang sudah kamu buat, didengar oleh Tuhan dan Ia berkati supaya yang terbaik yang boleh terjadi di hidup mu. Amin!

Note. Dia baru 3x ngomong gini, tapi ini kalimat favorit saya yang selalu bikin terenyuh karena sebelumnya saya (biasanya) habis marah besar atau melakukan tindakan konyol yang bisa bikin dia tersinggung atau sakit hati. But instead of being offended, he said this:
"Aku udah maafin kok sebelum kamu minta maaf"
....And I can truly feel his sincerity.

6.22.2017

Hampir Setahun di Dunia Mode

Gak terasa, udah hampir setahun saya jadi murid sekolah fashion design, tepatnya sudah 9 bulan. Berasa lagi hamil ya tapi nggak ada bayinya, yang ada pengalaman jungkir-balik yang gak akan saya lupakan. Tulisan ini saya buat untuk calon – calon fashion designer diluar sana, yang masih ragu sama karyanya, yang pesimis akan bertahan di industri ini, dan yang masih ragu apakah dirinya memang pantas menjadi desainer atau tidak.

Ketahuilah, manusia cecurut yang membuat postingan ini gak kalah cupu dari kalian. Saya gak pernah menjahit, saya gak pernah membuat pola pakaian, saya gak pernah menggambar fashion illustration, bahkan saya gak pernah kepikiran mau jadi fashion designer. Tapi terus saya masuk ke Esmod Jakarta berbekal naluri dan (sedikit) talenta. Entah gimana caranya, saya dapat ilham kalau saya harus cobain dan mengembangkan semua talenta yang sudah Tuhan kasih buat saya. Ada yang bilang saya nekad, ada yang bilang saya aneh, ada yang bilang saya kehilangan arah. Saya yang cumlaude dan bergelar sarjana manajemen dari ITB kok tiba-tiba belajar hal-hal teknikal seperti ini, semua teman-teman saya pasti sempat bingung dan menganggap saya bercanda. Bukan hanya teman, seseorang yang spesial dan pernah dekat dengan saya waktu itu menganggap saya mengambil keputusan yang salah dan telah menyia-nyiakan gelar saya. Hubungan kami pun berakhir begitu ia mengucapkan itu. Bisa kalian lihat, begitu besar perjuangan saya bahkan sebelum memulai perjuangan yang sesungguhnya di sekolah fashion design ini. Beruntung orang tua dan sahabat-sahabat dekat saya sangat supportive. Mereka adalah malaikat yang Tuhan kasih untuk menguatkan saya. Dengan hati yang terluka dan pikiran yang sedikit terbeban, dimulailah babak baru dalam hidup saya.

Perjuangannya disini tentu tidak mudah, apalagi saya memang belajar benar-benar dari bawah. Saya buta banget hal-hal teknis seputar dunia fashion. Masih terekam di pikiran saya, saya gemeteran pas awal mula mengoperasikan mesin jahit, begitu juga pas mau ngasih warna (entah pakai cat air atau copic marker) ke gambar, biasanya saya mondar-mandir dulu plus keringet dingin takut ngasih warnanya gagal dan malah bikin jelek sketsa gambar saya, terus saya juga suka keringet dingin pas pelajaran pattern drafting (membuat pola) karena takut gak teliti ketika membuat garis dan lengkungan. Kalau pas pengukuran ulang ternyata ukuran saya beda dikit sama teman-teman saya, frustasi banget rasanya. Gak ngerti salah dimana padahal udah mencoba presisi. Terus apa yang saya lakukan untuk mengatasi itu semua? Hanya 2 hal. 1 hal yang pertama kalian pasti udah sering dengar: PRACTICE. Saya rajin berlatih, dari mulai membeli mesin jahit murah meriah dan latihan menjahit sendiri, membeli seperangkat alat mewarnai (dari mulai copic marker warna-warni, KOI water color, pensil warna khusus untuk mewarnai skin tone) dan rajin menggambar sendiri, dan rajin ke pasar Mayestik sendirian buat kenalan sama jenis-jenis kain dan aplikasinya. Hal kedua ialah: PRAY. Berdoa semoga Tuhan selalu menyalakan api semangat di dalam diri saya. Karena kalau sampai api itu padam, tamatlah riwayat saya dan sia-sialah dukungan orang tua dan sahabat-sahabat saya. Pokoknya selama berjuang di Esmod, saya belajar banget buat rapi dan bersih ketika bekerja (karena itu menjadi poin plus plus plus plus plus plus dalam penilaian Esmod -meskipun saya tetap gak bisa serapi dan sebersih itu sih haha, emang bawaan dari kecil agak berantakan), saya juga belajar untuk on time karena telat semenit aja nilai dikurangin hahahaha (ini berlaku untuk modology / task submission dan absensi di kelas), juga belajar gimana caranya me-maintain creative process supaya tetap jalan meski lagi bosan dan gak mood. Salah satu caranya adalah dengan take your time hehe. Istirahat dengan memanjakan diri, terus pelan-pelan temukan inspirasimu dari berbagai aspek. Jangan takut bertanya dan eksplorasi. Rajin-rajin aja sharing sama teman dan guru tentang trend fashion yang terbaru, terus eksplorasi juga untuk details dan fabric manipulation supaya karya kita gak monoton dan terus berkembang. Terakhir, saya juga belajar untuk tidak mudah puas. Biasanya kalau sudah membuat suatu karya, saya minta pendapat ke 2-4 orang yang menurut saya judgmentnya bisa dipercaya. Jika memang beberapa orang kurang suka, ya saya gak boleh marah, justru itu menjadi bahan revisi yang saya yakini bisa meningkatkan kualitas karya saya.

As the result, saya dapet predikat best student for odd semester kemarin (tapi saya pesimis tetap dapet best student lagi semester ini hahaha). Saya juga sudah diterima magang di Happa, ready-to-wear-nya Mel Ahyar, selama 3 bulan. Proyek terakhir saya untuk Esmod adalah merampungkan kostum untuk Jember Fashion Carnaval tanggal 13 Agustus nanti, benar-benar pengalaman yang seru banget lho bisa ngerjain kostum yang demikian ribet dan banyak aksesorisnya. But in the end, it worth my time and energy. Dan semua ini gak akan mungkin bisa capai tanpa dukungan dari Tuhan, orang tua, sahabat-sahabat, dan seseorang yang menemani 8 bulan perjalanan saya di Esmod. Dia luar biasa. Meski expertise dia di bidang legal & law (which is beda banget sama apa yang saya kerjakan), tapi dia selalu mencoba memahami apa yang saya kerjakan dan menjadi pendukung nomor 1 untuk apapun yang saya pilih. Saran-sarannya selalu membangun, pembawaannya dewasa, dan selalu sabar serta berkepala dingin ketika menangani saya yang mudah labil dan emosian. He is the cure from God that I can’t thank Him enough. Really.


Untuk menyudahi post yang panjang ini, saya sekali lagi ingin mengingatkan, kesuksesan itu bukan diraih dengan hasil kerja semalam. Hargai proses mu, bahkan ketika prosesnya harus lebih lama dan lebih sulit. Jangan tergantung sama orang, tetapi milikilah motivasi yang datang dari internal. Pray and practice, that’s it. Dan jika pada akhirnya kalian menemukan bahwa menjadi fashion designer bukan jalan hidup kalian, that’s very okay. Just move on to the next door. Selamat berjuang dan menemukan 😊

9.02.2016

Aku Anak Sekolah Mode!

Hello semua! Semoga kalian dalam kondisi yang sehat dan bahagia ya. Gue akhirnya dapet kesempatan ngegabut di hari Jumat dan berhubung dua minggu terakhir ini hidup gue terasa menyenangkan makanya gue ingin berbagi keseruan sama kalian (kayak ada yang baca aja, boro-boro manusia, pup lalat aja ogah bacanya).

(Banyak cingcong lu Cha, buruan mulai!)
(Ok maap......)
(Btw, emang pup lalat bisa baca?)
(Bisa dong)
(Gimana caranya?)
(Tempelin aja layar hp lo ke pup lalat. Niscaya dia akan membaca)
(Dih. Emang dia ngerti?)
(Tempelin aja otak lo ke pup lalat. Niscaya dia akan mengerti)
(Serah)

Hari ini gue telah menyelesaikan short course selama 2 minggu intensif di Esmod Jakarta untuk kelas basic fashion design, yiha! Jadi gini, gue kan ambil program setahun di Esmod, mulai kuliah tanggal 19 September nanti. Enaknya, kami yang apply untuk program setahun dapat free short course dari Esmod. Bisa milih tuh mau kelas fashion design, basic sewing, pattern drafting, atau cocktail dress sewing (advance class). Nah tadinya gue minat ke basic sewing berhubung gue kaku banget ngejahit karena emang ga pernah. Gue pernahnya bikin tusuk silang doang haha itupun cuma bisa yang simpel. Namun sayang, bagai air susu dibalas air tuba, gue gak dapet kelas itu karena udah full kuotanya. Gue pun disarankan sama staff marketing Esmod untuk ambil fashion design.

(Btw, peribahasa lo kok gak nyambung sih Cha. Tiba-tiba jadi air susu dibalas air tuba?)
(Karena kalau air susu dibalas Coca Cola keenakan!)
(Serah)

Mulailah gue ikut kelas basic fashion design. Awalnya takut-takut gimana gitu. Gue kan cuma bisa gambar doodle. Hitam putih pula. Emang bisa gue ngegambar yang kece-kece kayak fashion illustrator gitu? Temen-temen gue pasti pada jago-jago dah, kalo gue keteteran gimana? batin gue saat itu. Nah, semua pikiran negatif itu sirna sejak guru gue, Miss Adela, masuk kelas. Ntah gimana tapi penampilan Miss Adela tuh memotivasi dan membuat suasana kelas agak tegang. Setiap gue maju buat konsultasiin gambar, dia pasti ngomong "Waw! Good ini!" atau " Hihihi lucu deh gambarnya!". Begitulah, Miss Adela memang senang memuji, padahal abis itu dia nyontohin gambar/ teknik yang benernya ke gue dengan sekali goresan yang rapi banget. Haduh. Oiya buat yang penasaran gue belajar apa selama 2 minggu intensif itu, ini dia listnya!

- Draw robot and skin (in straight, hip contortion, and 3/4 pose)
- Skin coloring with Copic markers and Rembrant colored pencil
- Learn shading techniques
- Fabric illustration (Denim & Pattern fabric)
- Fashion illustration with multimedia (Copic, Rembrant, and Gouache watercolor)
- Learn color range
- Learn international fashion illustrators' technique

Kayaknya segitu sih. Asiknya adalah, setiap kali udah selesai ngerjain desain, kami boleh (bahkan wajib sih sebenernya) konsultasi datang langsung ke meja Miss Adela untuk nanya udah oke belum, apa yang kurang, and so on. Yang bikin seru juga adalah teman-teman sekelas gue di short course asik-asik! Sangat bervariasi dari yang baru lulus SMA sampe ibu-ibu dan tante-tante juga ada hahaha. The best thing so far was to share the same passion and dream with them. Mayoritas emang pengen berkarir di fashion; either fashion editor di majalah Vogue/Bazaar/Elle, atau pengen jadi designer untuk brand besar macem Zara/Dior/Dolce Gabbana, atau pengen bikin clothing line a.k.a menjadi fashion-preneur. Seru banget kalau udah ngomongin mimpi gini, apalagi buat orang kayak gue yang butuh lingkungan yang mendukung gue untuk berkembang juga. Dengan adanya mereka, semangat gue terbakar terus bro! Alhasil, gue yang tadinya cuma bisa gambar doodle, sekarang bisa gambar yang lebih realis lagi lho hihi merasa senang nih ada kemajuan. Di akhir short course, gue dapat sertifikat dengan grade B. Huahahaha lumayan lah ya buat anak yang baru terjun ke dunia seni.

Yaudah sekian aja ya, gue capek ngetik. Tanggal 14 nanti gue bakal ikut masa orientasi, kayaknya sih bukan tipikal universitas pada umumnya yang bakal ngeplonco atau apa. Kayak bakal biasa aja sih. Oiya! Perpustakaan di Esmod cozy banget dehh, koleksi bukunya itu lho artsy semua, pengen bawa pulang semua isi lemarinya huhuhuhu sayang belum boleh bawa pulang sampe gue dapet kartu pelajarnya. Yasudah lah. Nasib. Anyway berikut foto-foto tentang Esmod dari gue. Selamat berakhir pekan!

Skin coloring in hip contortion pose 

 Ruang kelas 211, tempat ku menimba ilmu

 Pattern fabric illustration. Media: Gouache, Copic, colored pencil, drawing pen

 Denim fabric illustration, using Holly Nichols' technique (she is my fave fashion illustrator!)


Belajar color range dari lukisan Salvador Dali. Itu color range-nya dibuat manual dengan mencampur-campur water color

My artsy fella

8.19.2016

Dari "Hantu" untuk Indonesia

(Baru sadar akhir-akhir ini kalau ngeblog pakai kata "saya" instead of "gue". Sok formal banget ya padahal isinya mah sampah, yang baca juga nyamuk malaria doang. Mau balik lagi ah make "gue) ((serah lu Cha))

Sehari sebelum hari kemerdekaan RI ke 71, gue menelpon beberapa tempat print yang selama ini jadi langganan untuk menanyakan jam buka di hari libur nasional esok hari. Tempat print yang paling andalan ternyata tutup (sedih pake banget). Dan tempat print kedua ternyata buka bahkan sampai jam 12 malam. Tempat print yang kedua ini tipe franchise gitu, belum pernah nyobain yang cabang Depok tapi yang cabang Jaksel khususnya Wolter Monginsidi (deket kosan dulu waktu magang) itu terpercaya banget hasil dan service nya meski agak mahal. Lumayan lah, batin gue. Gue sangat butuh jasa print bagus untuk kertas karton demi terciptanya perdamaian antar galaksi. Ih apasih. Demi kelancaran les desain mendesain gue yang saat ini sedang memperlajari media promosi dan packaging. Begitu. Gue gak mau mengambil risiko ngeprint di tempat print sembarangan, takut hasilnya gak klimaks dan malah mengecewakan guru gue yang super perfeksionis.

Singkat cerita, tepat di tanggal 17 Agustus jam 6 sore gue sudah tiba di tempat printing. Bertanya ke customer care kalau mau ngeprint file ready-to-print dengan tinta berwarna diatas karton gimana. Gue pun disuruh antri karena yang on going ngeprint lagi banyak banget, ujar si mbak. Duduk lah gue menunggu panggilan antrian. Emang gak dikasih kertas antrian sih, beda sama sistem tempat print andalan gue yang ngasih nomor antrian. Pikir gue, yaa si mbak hafal lah ya muka gue, cantik begini.  Sejam pun berlalu. Gue mulai gelisah karena banyak anak-anak mahasiswa baru (maba) dari universitas Depok-Jakarta (EHEM) yang asal nyerobot langsung ke lantai dua (tempat printing berwarna) dan langsung kelar, abis itu masuk lagi segerombolan yang lain begitu terus berulang kali. Gue bingung dong, loh kok mereka boleh langsung masuk, padahal si mbak customer care ngeliat gue kok, wong gue duduk di bangku yang deket meja dia. Gue pun bertanya apakah gue sudah bisa keatas atau belum. "Maaf belum bisa. Barusan aja operatornya bilang masih penuh". Lalu gue duduk lagi. Dengan penuh ketabahan hati gue menunggu sambil menggengam flashdisk berisi 2 file PDF packaging. Dua jam berlalu. Dua setengah jam berlalu. Untung gue bawa kacang pilus kalau nggak gue mungkin udah mati kelaparan (anaknya gampang laper nih, maaf). Tapi bener deh, makin lama, gak cuma maba universitas Depok-Jakarta itu yang langsung nyerobot keatas, bapak-bapak ibu-ibu juga. Apa cuman gue yang gak ngerti sistem disini ya...Di detik-detik menuju tiga jam menunggu, dengan perasaan kesal gue pun nanya dengan suara agak tinggi, "mbak, ini beneran saya harus nunggu selama ini? Gini deh, saya tinggal flashdisk saya, tolong diprint, saya ambil besok pagi. Buka jam berapa sih besok?" "Besok buka jam 7 mbak. Em...tunggu sebentar lagi aja ya mbak, gimana?" Gue pun melengos dan memutuskan untuk langsung naik ke atas. Di atas emang ada beberapa bocah-bocah maba yang lagi dilayanin operator, begitu 1 operator sudah selesai melayani 1 bocah maba, gue langsung nyerobot dan bilang "mas saya nunggu lama banget dibawah, katanya penuh mulu. Saya cuman mau ngeprint 2 file dan dua-dua nya ready to print. Saya mending tinggalin flashdisk dan ambil besok atau saya tunggu?" "oh kalau ready to print mah tunggu aja mbak". Gak nyampe 5 menit urusan kelar. Terus gue cengo.

Di mobil gue masih cengo banget parah. Depok emang cuman secuil wilayah bagi Indonesia, tapi bisa jadi kota kecil ini merefleksikan apa yang terjadi seutuhnya di negara ini. Bukan bermaksud mengeneralisasi, tapi menurut gue faktanya emang begini: hidup jadi orang baik di Indonesia itu tersiksa. Gue udah berusaha sabar dengan menunggu dan mengantri. Tapi hak gue dilukai oleh orang-orang yang gemar nyerobot. Gue pun sudah berusah gak emosi, tapi gue justru gak diperhatikan. Gue HARUS nyelak antrian dan HARUS emosi supaya gue mendapatkan hak gue. Gue tahu gue juga salah karena akhirnya gue melakukan hal-hal negatif itu. Dan memang bisa kita lihat akhir-akhir ini, orang baik di Indonesia kayak makin sedikit. Makin terkikis karena perjuangan menjadi orang baik disini itu sangat berat. FYI mbaknya juga gak minta maaf lho. Tidak ada siapapun yang meminta maaf disana, Mungkin gue dianggap hantu atau secuil customer yang gak guna ke cash flow mereka. Datang ataupun engga, gue gak terlalu berdampak. Mungkin itu juga yang mayoritas kita sebagai Indonesia pikirkan, kita mengangap yang penting itu diri kita doang. Yang lain itu sampah. Gak heran banyak yang korupsi, wong yang dipikirin perut sendiri doang. Kadang keluarga yang rela nungguin di rumah juga gak dipikirin, yang penting perut sendiri kenyang, nilai sendiri bagus, gaji sendiri naik terus, dan sebagainya. 

Sebagai penutup, gue cuman ingin mengajak kita semua (iya, gue dan nyamuk malaria yang baca blog ini ((masih mending dianggap nyamuk, daripada gue dianggap hantu)) untuk terus mengevaluasi diri. Jangan cepat puas dengan  apa yang sudah kita capai karena sesungguhnya (kalau gue boleh jahat), kita baru bergerak secuil diantara negara-negara lain yang hari merdekanya sama dengan kita atau mungkin lebih lama tapi lebih sejahtera hidupnya, lebih maju peradabannya, lebih bermartabat akhlaknya, dan lebih punya nurani. Selain itu, hargailah orang-orang yang baik di sekitar kita. Yang mau kerja tulus memajukan Indonesia. Yang legowo meski haknya dilukai. Mereka adalah minoritas dan kalau mereka punah, matilah kita. Sekian dan dirgahayu Indonesia ku.

8.10.2016

Berjuang untuk Seimbang

Ketika post ini dibuat, saya lagi lelah-lelahnya sampai mau nangis. Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, energi saya habis sehabis-habisnya bahkan minus mungkin ya. Badan loyo, mata belel, suara serak, tangan sakit, dan pikiran lalu-lalang kayak jalanan di Sudirman (untung badan wangi). Sudah 3 bulan ini saya lagi latihan menyibukkan diri sebelum pertengahan September nanti sekolah fashion. Niatnya sih warming up biar pas mulai kuliah lagi gak keteteran, tapi ternyata gak juga. Ini realita kehidupan saya sebagai fashionpreneur dan desainer grafis. Ini bukan warming up. Ini inti hidup saya.

Mungkin relasi terdekat saya sudah sangat paham. Saya itu anaknya ambisius, kalau sudah senang sama satu hal bakal dikejar sampai mati, kalau sudah niat akan saya lakukan meski harus babak belur. Dan itu yang sedang saya lakukan akhir-akhir ini, saya ingin pencapaian lebih atas apa yang saya punya. Kalau kalian tau Teori Hierarki Maslow, titik puncaknya disebut sebagai Self Actualization. Nah kurang lebih saya lagi butuh itu. Kadang orang malah nyinyir dengan bilang "Lo ngotot banget ngelakuin ini ngapain sih? Santai aja keleus. Gak usah terlalu heboh". Sebenarnya orang ini gak salah juga ngomong gini karena saya emang kalo diliat-liat kaya anjing liar ngejar semuanya. Tapi jangan salahin juga karena memang kebutuhan saya yang dibawah-bawah (masih berdasarkan teori Maslow) sudah terpenuhi. Sudah cukup. Sekarang saya cuman ingin talenta yang saya sadari sangat besar dan berguna buat banyak orang ini bisa dimaksimalkan sampai mentok. Apalagi sebagai anak berdarah seni yang tidak berlatar pendidikan seni, saya merasa butuh membuktikan kalau saya bisa juga membuat seni meski saya harus membayar lebih mahal, seperti: saya harus ikut les Adobe Photoshop, Adobe Illustrator, dan Adobe Indesign; saya kalau bikin karya lebih lama dan masih suka gak efektif gak kayak anak seni lain (karena jam terbang yang masih kurang dan kurang memahami teori fundamentalnya), saya harus jauh-jauh ikut workshop tentang desain supaya bisa dapat networking dan dapat insight baru. Alhasil tidur saya kayak kalong, tiap hari ngerasa capek luar biasa, saya jadi suka sakit (flu berat doang, tapi tetap aja irritating). Ditambah saya anaknya susah nolak. Semua proyek saya iyain karena saya ingin menabung untuk satu dan lain hal, selain itu saya juga belajar membayar semua liabilities dengan uang sendiri. Biarin aja sedikit dulu gaji saya, tapi saya udah bisa bantu bayar ini itu. Saya bukan gila uang. Bukan. Puji Tuhan rejeki selalu ada untuk saya. Saya cuman ingin berdampak positif dengan cara dan talenta saya.

Dan kalau kalian pikir saya sudah mau berhenti nyerocos, kalian salah.

Saat ini bisnis pribadi terus meningkat perkembangannya, sekarang Start From The Bottom buka di Seibu Grand Indonesia, sales harian juga jauh naik baik online maupun offline, brand awareness mulai terbangun. 3 hari sekali saya harus nerima telepon dari Seibu atau e-commerce yang kami masukin untuk pelaporan stock, belum lagi ada aja yang seneng ngajak meeting, belum lagi ada customer yang minta desain scarf customized. Selain itu, sejak saya work from home dan adik saya terdepak ke Bandung untuk kuliah, keluarga saya lebih banyak butuh tenaga saya. Sebagai anak yang tahu diri, saya jabanin semua yang orang tua saya minta. Disuruh nganter ke arisan, ayo. Disuruh datang seminar, ayo. Disuruh ngurus e-ktp, ayo. Disuruh belanja bulanan, ayo. Disuruh nyetirin ke Bandung nengok adik saya, ayo. Belum cukup sampai disitu, sebagai makhluk sosial tentu saya juga punya teman. Nah, untuk menjaga relasi yang baik tentu saya harus manut kalau diajak ketemuan atau bantuin sesuatu. Meski mayoritas teman-teman saya berdomisili di Jakarta, ya tetap saya ikutin kalau mau pada kongkow di Jakarta. Padahal tahu sendiri lamanya menempuh kemacetan Depok-Jakarta udah kayak tur pindah galaksi. 24 jam buat saya benar-benar gak cukup. Ini gila. Saya ingin kegilaan ini berakhir tapi saya suka dan butuh kegilaan ini.

Nah kalau otak sudah mendidih gini, baru saya tobat,

Sudah belum sih saya mengejar kerajaan Allah? Kenapa sih yang di otak saya cuman hal-hal duniawi? Bahagiakah saya dengan kehidupan seperti ini? Sudahkah saya bersyukur atas rejeki dan kesibukan ini? Apa saya mau seperti ini terus sampai 10 tahun kedepan? Apa saya mau menjadi sosok anak, kakak, istri, ibu, tante, nenek yang seperti ini? Saya pun baru sadar apa yang saya perjuangkan selama ini adalah semu karena semuanya berat sebelah. Perjuangan saya yang sesungguhnya adalah bagaimana agar semua seimbang dan dengan memprioritaskan kerohanian saya, saya menjadi sosok yang terbaik dari segi dunia dan akhirat. Untuk orang-orang yang tengah memperjuangkan hidupnya supaya lebih berarti, mari berjuang bersama :)

Oiya, ini sedikit hasil kursus Adobe master class saya (click for larger picture) hehe cheers!

© A Myriad of Words
Maira Gall