2.07.2015

Letter for the Future of Me

So, am getting influenced by a friend from twitter, @azwitasari, to write a letter for 30 year old self. Of course thing like this happens multiple times in front my eyes, watching people write the letter for the future of selves, but never crossed my mind to make one for my own. So hereby, throughout today’s post, I make an attempt to make one in the ground of it can remind me of what I have to be in the future and who I was back then.

Dear my 30-year-old-self,

I hope you’re still as healthy as I am. I always believe that our body is stronger than an ox’s and the endurance is far beyond normal human. I never get myself hospitalized so I really hope it never happen to you either. But don’t worry; a cup of coffee for a day won’t hurt since I know we love it! I really hope you’re happy with your job and get the best career path ever. Either work as consultant, investor, or manager in multinational company, I hope you can both enjoy your time and suck money excessively for our business capital. Well, forgive my materialism but you’re young lady! I know you could earn much! You have to achieve our dreams! Dad told us not to be the slave of money but create our own money instead. I hope you’ve already prepared the big plan for our fashion and culinary business! I can’t wait to see you decorate every inch of the store. I wonder what will our customers look like, how wide they can afford to smile seeing and feeling our product, and how long they can be as loyal fans of our brand! And, you need to be an investor in the meantime of your career as it was Dad’s dream. Please don’t forget that investor thingy and be the conglomerate of yourself! Phew, sorry for talking too long about your job and career, I know you might journey a stressful and down-hearted moment but be strong! You’re nearer to be free as entrepreneur.

How’s your romance? I hope you finally settle down into our prince charming which by means a Christian, smarter than us, taller than us, a doctor/businessman, loves books and arts, calmer than us, and love us with his bloody whole heart. I hope enjoy your every second with him going to bookstore, choosing what snacks to buy, sharing beds, cooking simple dish, brushing the cat, and else. You know I die in curiosity thinking of what does he look like. In fact, I also wonder the kids! I hope you get enough kids, two is tolerable, but if you have more then it’s still definitely okay. I’m sure you can love your kids with the sweetest way by managing their education and be at their side every time they need you. Enjoying the music orchestra together, visiting art museums, having trip around Asia and Europe; have you done those with them? If no, then you should start now! Above all, I hope you can cook (at least) a simple dish even actually I do really hope you can reach further achievement of cooking a complicated dish in the grounds you are a good wife and mother they believe in (haha! Come on girl!).

How are Dad, Mom, and Rey? I hope they are proud and happy for your life. You are the first child in the family; thus you have to be their pride and I know you have carried it on. Have you given treat by taking them into some cool places like Vatican, Greece, and Maldives? I hope at least to Vatican you’ve ever brought them to. They’ll love that sacred city ever since. And as we know, it’s always a touching moment to see the smiles coming from their faces. Don’t forget to look after your parents and inviting them into your house frequently because Dad and Mom love to enjoy the enormity of your house (even I think they only yearn for time to be with you).

Well, I know you’re tiredly tired. But still keep living the world you want to live in okay? I believe you can reach our dreams and helping people around you. See you on your 40 and be the light among the sea of people.

Love,
Your 20-year-old-self

1.29.2015

Mataku Memerhatikan

Dari dulu hingga sekarang mata ini tetap mengawasi,
Mata ini menyaksikan ratusan siluet datang dan pergi, menangis dan ditangisi, bekerja dan terduduk, bahkan ada yang tersenyum dan terdiam
Semua ditangkap mata dengan jelas hingga keriput mereka pun tak luput,

Ada masa ketika mata ini menyaksikan seseorang pergi dan tak kembali,
Mata melihat hati berduka atasnya,
Namun ia hanya sanggup berbisik, "relakanlah, ia pernah ada untuk menguatkan mu. Kini ia pergi untuk menguatkan dirinya sendiri"

Ada masa ketika mata ini melihat belasan jiwa tertatih-tatih, berpeluh, lalu setelahnya mereka bersorak dan berpesta karena segala sudah usai,
Mata saling menatap dengan yang lain dan berbisik, "kalian yang pernah menang, menangkanlah lagi! Lewatilah ratusan poros kehidupan karena kalian tak akan jatuh!"

Ada masa ketika mata harus merelakan mata di seberang tertutup,
Tidak akan dilihatnya lagi pantulan bayangannya di mata yang lain itu,
Yang ia tahu, raganya mematung, diam, kaku, tak bergeming,
Sambil tertunduk, ia katakan pada kaki, "jalanlah, seberapa susah kamu melangkah, jalanlah. Jalan, itulah arti hidup. Aku disini"

Ada masa ketika mata mengenal sepasang Adam dan Hawa,
Mereka membantunya menafsir hidup,
Mereka mengajaknya berlari, terbang, menyusup, berenang, mendaki,
Rasanya mereka memberi spektrum baru untuk retina,
Rasanya pembuluh darah merekah dan darah mengalir deras,
Ia bahagia!
Mata ini girang bukan main dan tak akan lupa rasanya dibangkitkan hingga ia bersorak, "Andai Tuhan lihat ini, akan dikembalikanNya lagi kalian ke Negeri Eden! Kalian lah kebangkitan ku!"

Ada masa ketika mata ini menangkap gelapnya malam di muka sahabatnya,
Ada masa ketika mata ini melihat keangkuhan,
Ada masa ketika mata ini pantulan bayanga si penipu,
Selalu ada masa bagi mata untuk menjadi saksi,
Dan sekali lagi ia harus tetap memerhatikan



10.29.2014

Saya Introvert dan Saya Bangga

Hai halo abrakadabra! Ada keinginan yang teramat besar untuk nge-blog tapi waktunya jarang, maklum udah jadi mahasiswa tingkat akhir. IYA TINGKAT AKHIR. CEPAT SYEKALE! Gue juga sama kagetnya kok, kadang malah mikir apa gue sudah layak menjadi anak tingkat akhir alias kakak tingkat tiga? Megap-megap juga sih. Gosipnya sih yang namanya anak tingkat akhir itu bisa agak nyantai karena yang dipikirin udah mulai sedikit, keinginan untuk ikut organisasi dan kepanitiaan yang sudah tidak sebesar dulu, dan mulai fokus ke TA saja, namun sekali lagi itu hanya gosip yang belum tentu terbukti kebenarannya. Dan gue tidak setuju dengan pernyataan itu, haha! Intinya gue kekurangan waktu untuk bisa melakukan semuanya sampai-sampai gue harus bikin daily to-do-list based on priority scale karena 24jam yang gue punya tidak cukup untuk melakukan semua to-do-list gue. Cukup sih, tapi berarti gak bobo, padahal bobo adalah hal yang sakral buat gue. Ok gak penting, lanjut.

Seperti yang kalian tahu, di dunia ini ada dua klasifikasi umum psikologi manusia; introvert dan ekstrovert. Tanpa melakukan self-assessment, orang kayak gue sangat mudah ditebak masuk ke kategori yang mana (kalau emang pernah kenal), which is introvert side. Introvert ini adalah manusia dengan kepribadian ingin sendiri. Ingin punya waktu bengong sendiri. Pengen jalan ke mall sendiri. Pengen makan sendiri. Pengen baca buku sendiri, sehingga privasi adalah hal yang dianggap krusial. Merecoki kehidupan introvert dan berusaha mengganggu rutinitas atau merusak rencananya adalah bencana bagi pelaku. Jika hal itu terjadi, seorang introvert yang emosional akan langsung ngamuk dan maki-maki pelaku di depan mukanya (kalau perlu dihajar), sedangkan introvert pemendam bakal memilih untuk pergi dan menghindar dari pelaku sembari memusnahkan si pelaku sekedar di dalam imajinasinya saja. Semua ini terdengar kejam, tapi melebihi semua itu seorang introvert itu pemaaf, hanya saja kadang ia tidak bisa menunjukkannya dengan benar-benar meminta maaf karena malu atau lupa. Iya, entah ada apa dengan introvert, tapi berdasarkan hasil pengamatan gue, kami adalah orang dengan kecenderungan mudah lupa, termasuk lupa punya musuh. Nggak usah musuh, kadang ulang tahun temen sendiri aja lupa. Lupa nomer hp sendiri. Lupa nyimpen kacamata dimana (padahal lagi dipake). Lupa bedanya kiri sama kanan. Lupa kaki ini mau melangkah kemana. Pokoknya gampang lupa.

Ada satu asumsi di otak gue yang mencoba menghubungkan kenapa introvert bisa dengan mudahnya lupa. Menurut gue sesimpel karena seorang introvert itu memiliki tingkat analisa dan observasi yang lebih tinggi dari ekstrovert. Namun, kemampuannya itu tidak ia terapkan di segala aspek kehidupannya, ia hanya akan menganalisa dan mengobservasi sesuatu yang penting buat dirinya, yang mampu menimbulkan sensasi baru, atau sesuai dengan interest & passion-nya. Dengan demikian, urusan lain yang tidak termasuk dalam kategori tersebut akan dieliminasi dari otaknya, bukan berarti tidak penting, tapi otak seorang introvert sudah terbiasa mengeliminasi dan memprioritaskan hal mana yang perlu diteliti dan mana yang dianggap sebagai ordinary event (kalau terjadi ya terjadi saja), dimana ordinary event ini tidak akan terlalu kami ingat sehingga kami cenderung pelupa (di beberapa aspek). Namun, kemampuan analisa yang bagus ini kadang membuat kami disebut "the wiseman", orang yang ngomongnya jarang tapi sekalinya ngomong tuh jleb karena kami mampu menyertakan data sana sini dan mengolahnya menjadi pendapat yang terpercaya.

Setelah liat asumsi diatas, mungkin beberapa bilang, enak juga ya jadi introvert, bisa independent hidupnya, kayak jarang galau. Nah, masalahnya adalah dunia dengan arus globalisasi yang cepat ini menuntut kami harus punya muka tebal untuk berlagak ekstrovert, yang suka team working, kongkow bareng teman-teman abis ngampus, ikut rapat berjam-jam, ikut seminar berhari-hari, ikut kepanitiaan ini itu, ngobrol di networking session, dll. Padahal, kepribadian introvert itu bisa dianalogikan seperti baterai yang butuh di-charge dan baterai itu akan menjadi sangat boros jika introvert harus dimasukkan ke dalam gaya hidup ekstrovert. Bagi mereka yang sudah punya kemampuan mengelola kadar introvertnya, mereka akan mampu beradaptasi dan akhirnya bisa berubah menjadi introvert yang socially adapted alias bisa tuh masang muka tebal sok ceria, sok senang dalam kehidupan yang banyak orang dengan banyak ocehan, sok menikmati perdebatan dan turut berpartisipasi. Ibaratnya, itu adalah tipe introvert tingkat atas, nggak semua introvert bisa bertransformasi menjadi wujud itu, butuh tekad yang kuat dan latihan beberapa bulan. Tapi tetap saja, biasanya setelah beberapa hari/seminggu penuh menjadi sosok yang sok ekstrovert, baterai kami akan habis dan beberapa hari/seminggu berikutnya kami harus diam di kamar atau kembali menyendiri untuk memulihkan energi. Ribet? Ya.

Nah, ditengah keribetan yang gue tulis disini, menurut gue penting banget tau untuk tau kepribadian kita dan gimana cara ngontrol serta nyenengin diri kita sendiri. Karena pada akhirnya self-awareness dan self-management adalah hal yang bisa bikin kita bertahan meski lingkungan dan faktor eksternal di sekitar kita tidak menyenangkan atau tidak sesuai dengan ekspektasi. Kayak misalnya, gue besok rapat organisasi yang membutuhkan waktu berjam-jam, maka sehari atau dua hari sebelumnya gue harus menyendiri dulu (kalau gue tipe yang suka di kamar aja atau ke toko buku) dan nyenengin diri gue sendiri selama proses semedi berlangsung. Gue udah tau apa-apa aja yang bisa bikin gue senang sehingga gue bisa menyenangkan diri gue sendiri dengan mudah, misal beli gorengan lengkap dengan cabe hijaunya, beli 10 butir bola ubi, beli buku tentang art atau marketing di Periplus, nonton Masterchef, dll. Dan bagi introvert, kesenangan sepele seperti itu adalah kesenangan yang bisa bikin benar-benar senang dan mendukung proses semedi/charging. Contoh lain gue tahu gue mudah lupa maka gue bikin daily schedule atau kadang sampe nge-recruit orang jadi asisten pribadi buat ngingetin ini-itu. Pokoknya hal-hal yang perlu diantisipasi dari menjadi introvert sudah berusaha gue pelajari. Tapi ya, sebagai introvert yang emosional kadang suka lepas kendali juga sih. Hal yang paling gue benci sih panas. Panas bener-bener bikin gue marah dan gak mood kemana-mana, bener-bener bikin ngedown. Selain itu, tiba-tiba berada di lingkaran gosip dengan mayoritas orang ekstrovert juga kalau guenya nggak siap bisa bikin muka gue amat datar dan mengeluarkan aura "aku ingin pulang dan menyendiri" (dan teman-teman gue bilang gue paling ahli ngeluarin aura negatif yang menyatakan "ingin sendiri and you get lost!", haha maafkan).

Yaudah kurang lebih gitu sih hasil analisa gue. Ini gue bikin ini gak nyari referensi di google lho, murni hasil pemikiran pribadi, murni asumsi, jadi maaf kalau ada salah kata. Gue pamit dulu mau baca isu-isu terkini terkait bisnis dan politik. Maaf gue kali ini nulis blog dengan topik sok serius hahahahahahahahahahaha. See you dan selamat merefleksikan diri!


8.22.2014

You'll be Remembered, A.S.

Song by Coldplay

I think of you
I haven't slept
I think I do
But I don't forget
My body moves
Goes where I will
But though I try my heart stays still
It never moves
Just won't be left
And so my mouth waters to be a fate
And you're always in my head
You're always in my head
You're always in my head...

Well, time goes by so fast, huh? You know, at first, I was panicked, I was lost, I was terribly missing you and tearing apart. Until I sense, that you never really walk away. You're always in my head. You're still here with me (and all of your friends), you will give me courage to do all the marketing stuff in our business, tickle me with your crunchy jokes, fool me with your funny face, and teach me to bear the burdens. You were just being the early person reached the finish line. That's all.


© A Myriad of Words
Maira Gall