9.16.2012

Gue Masih di Sini, Bengong, dan Tidak Bisa Menemukan Judul yang Tepat.


Gue disini, masih melongo, namun kali ini untuk memendam rasa. Gue melongo setelah menyadari betapa lucu kehidupan disini. Kalau mau dibilang berbeda dari SMA, pastinya. Beda banget sampai terkadang gue takut, gue lagi di dunia mimpi, dunia nyata, atau dunia peri (?). Gue udah punya teman-cukup-dekat disini dan itu membuat gue nyaman. Jujur gue masih sama dengan gue yang dulu, rasa pemalu itu masih ada, masih melekat layaknya tuyul yang menggelendoti majikannya. Gue masih pasif kalau di depan publik, masih suka gak pede dengan apa yang gue punya. Adanya teman-teman baru -yang untuk beberapa hal langsung klop-, jujur gue jadi merasa gak sendiri dan merasa bisa mengarungi fluktuasi drama kehidupan.

Gue cuma mau cerita sedikit, kalau gue disini mau berubah. Gue mau banget buka topeng gue dan dikenal sebagai orang yang asik, bisa diajak kerjasama dan banyak bacot. Kalau kalian belum kenal gue, bertanyalah sama para sahabat di kota Depok dan teman-cukup-dekat di Bandung. Gue cuma pemalu di awal, untuk menjaga image supaya orang gak langsung ilfeel pas pertama kenalan. Untuk selanjutnya? Gue bakal binal sebinal-binalnya bebek binal. Gue petakilan, suka masang muka penuh ekspresi, gak tau malu, suka ngelawak gak jelas. Meski hal demikian tidak berlaku bagi beberapa kondisi seperti: orang baru itu anak tenar, dominan, suka show off, atau jayus. Gue suka nggak bisa nerima orang-orang yang kayak gitu. Bahayanya, kebanyakan anak-anak disini gue rasa demikian. Bukan bermaksud merusak citra anak-anak disini. Mungkin emang kulturnya beda atau emang guenya yang ‘homesick’. Sekolah gue yang dulu isinya anak-anak yang down to earth, humble, and friendly. Sekarang terlalu banyak kepura-puraan. Berpura-pura paling kaya, paling cantik, paling gaul, paling pintar, paling asik, paling ngerti seni, paling bisa bahasa Inggris, paling jago berorganisasi, paling pintar main alat musik, paling bisa matematika bisnis, paling bisa public-speaking. Padahal? Yah, tebak sendiri.

Back to topic, gue intinya mau berubah menjadi lebih proaktif, lebih membuka jati diri gue sebagai seseorang yang (sebenarnya) bisa diandalkan, yang selera seninya bagus, yang suka kepanitiaan, yang suka paduan suara dan orkestra, yang pintar, yang suka egois, yang cinta matinya adalah K-POP. Tidak hanya itu, gue juga mau berubah untuk lebih mengerti anak-anak yang ‘fake’ tadi. Bagaimana pun menjadi ‘fake’ adalah hak mereka dan mereka adalah partner belajar gue disini. Gak mungkin gue mau jadi proaktif tapi sama mereka gue jadi ansos. Itu gak mungkin layaknya mencium jidat sendiri.

Eh tapi jangan salah ya, orang-orang yang gue bilang ‘fake’ itu emang banyak, tapi yang unmask dan baik juga banyak kok. Mereka adalah cinta baru gue disini. Gue suka sama orang-orang yang sederhana, tidak memamerkan kelebihan atau apa yang ia punya, jujur, dan setia kawan.

Kalau kata Einstein, tidak ada hal yang pasti kecuali ketidakpastian itu sendiri. Bener sih, siapa tau fakers tadi kesandung batu lalu berubah jadi lebih ke depannya atau orang yang gue kenal sebagai sosok yang sederhana tiba-tiba kesamber kilat dan jadi hedon keesokkan harinya. Who knows? But one thing I’m pretty sure about, is my life will be so colorful here. There will be red, yellow, purple, blue, or even black and I’m about welcoming all of them.

Gue masih disini, bengong, namun merasa lebih baik.
P.S. Happy Birthday Saras my best buddy ever, I fly my hugs for you. Sorry I can't be there to cheer up your day but I believe today will be so blast like a fireworks. God leads!

8.06.2012

Home.

Raga ku mungkin memang ada disini tapi tidak dengan anganku. Anganku melayang, memikirkan perpisahan 'kecil' yang akan aku hadapi. Aku tahu betul aku aneh karena baru mengungkapkannya sekarang. Kemana aku selama ini? Rupanya aku menangis di dalam hati. Sejujurnya aku sedih harus meninggalkan zona nyaman ku selama ini. Aku sedih harus meninggalkan famili, sahabat, segala jenis makhluk yang menemani masa muda ku di kota ini. Meski sepertinya otaku punya kelainan karena tidak bisa mengingat suatu kejadian kecuali merupakan kejadian krusial, tapi memori ini tetap punya rasa. Memori ini punya hati yang bisa merasakan kenyamanan dan kehangatan selama aku muda di sini.

Aku tahu kalian bilang aku cengeng di dalam benak kalian. Aku tahu aku seharusnya tidak begini karena masih banyak orang yang tidak seberuntung aku, entah itu tempat mengenyam ilmu yang lebih jauh atau bahkan belum mendapat tempat. Maafkan aku tapi aku sedih. Rasanya jauh dari kalian itu menyakitkan. Keheningan yang mungkin terjadi itu membunuh. Kehampaan yang terbentang itu menyiksa. Hingga rasanya yang terukir di benak hanya 'aku ingin pulang'. 

Wahai sahabat, aku cemburu ketika kalian ramai sedang aku harus menyendiri. Aku cemburu kalian masih bisa berada dalam naungan hangat orang tua. Aku cemburu ada yang membuat kalian tertawa selain aku. Aku cemburu kalian membunuh waktu tanpa kehadiran ku. Aku cemburu ketika kalian masih bisa bertatap muka dengan saudara/saudari setiap detik. Aku cemburu ketika jarak memisahkan kita.

Tapi aku tahu, bahwa perpisahan ini adalah pilihan. Kita harus berpisah agar masing-masing dari kita bisa mengembangkan potensi dan menjadi kita yang lebih dewasa secara lahiriah dan batin. Aku janji perpisahan ini hanya untuk sementara. Aku janji ketika aku kembali nanti, aku sudah menjadi anak ataupun kakak ataupun sahabat yang jauh lebih baik, yang bisa lebih menghargai kehidupan, dan yang lebih bijak. Aku janji tidak akan pernah mengikis memori yang sudah kita ciptakan belasan tahun. Aku janji akan pulang dengan membawa senyum bagi kalian.


8.01.2012

OSKM ITB 2012


Selamat pagi, salam Ganesha kawan :D *asik deh yang udah resmi jadi anak ITB*. Iya, kemarin gue baru selesai OSKM (Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa) atau mungkin yang masyarakat biasa kenal dengan OSPEK, meskipun hakikatnya OSKM bukan lah OSPEK karena OSKM bukan perploncoan.

Nah, OSKM ini diadakan 5 hari. Selama 5 hari itu kami disuruh nyampe jam 6. Gila tjooyyyy Bandung dingin abis, gue gak bohong. Bener-bener gak ada rekayasa disini. Bayangkan gue mandi jam 5 di tengah siraman hawa dingin yang menusuk kalbu. Untung make jas almamater ITB, kalo enggak, mungkin gue sudah bertransformasi menjadi Yeti yang bau kaki. Trs disini ada istilah-istilah tertentu untuk panitia2nya, seperti Agnibrata untuk sie. Keamanan (semacam yg galaknya gitu :P), Jaya Kirana untuk jadi yang baik2nya, Satya Wibawa untuk sie. Kedisiplinan (kalo yg telat urusannya sama ini nih), Cucakrowo untuk sie. Dokumentasi, Sandya Samana untuk sie. Kesehatan (jadi yang tepar karena sakit/kecapean ke kakak2 ini deh). Terus, kami semua dibagi menjadi 150 kelompok dengan 4 kakak Jaya Kirana untuk satu kelompok. Gue dapet kelompok 121 a.k.a kelompok Friendzone dan kakak2 gokilnya adalah Kak Chris, kak Hasbi, kak Farhan, dan kak Lia. Satu kelompok yang SBM cuma gue doang, sedangkan 19 orang lainnya dari fakultas lain. Kalo gue mau certain semua secara runut pasti bisa berlembar-lembar nih, jadi gue certain yang seru nya aja ya *iya Cha, lu kebanyakan ngomong daritadi sumpah*

Yang seru tuh kelompok gue banyak banget ice breakingnya, tebak2an konyol yang memperbodoh mahasiswa wkwk, salahkan kakak paling cups (re: cupu) sedunia, kak Farhan. Terus pas lagi di Sabuga (Sasana Budaya Ganesha), ada anak FTMD yang nembak cewek di depan umum, di atas panggung wakakakak gebleg. Terus gue baru tau kalo cowok2 FTTM yang notabene macho tuh ternyata banyak fanboy juga, termasuk salah satu teman baru gue dari Jatim, Merdy hahaha. Lalu, suatu hari kami dikasih tugas kelompok kan yaitu membuat timeline sejarah ITB, nah tapi harus dihias alias gak boleh anta, dan gambar Adri anak FSRD bagus banget ya Tuhan ;_; gue menyerah. Terus, gue sekelompok sama Candra anak FTTM yang kalo make sunblock mesti ampe buka kancing baju atas dulu, anjrit lu Can wkwk. Terus juga sekelompok sama 3 makhluk gila dari FTI: Stepjo, Adit, dan Tami. Awal mulanya Tami tuh pendiem, tapi setelah dicuci otak sama Stepjo dan Adit, ia pun berubah menjadi kucing garong. Yang seru tuh pas harus ketemu sama massa kampus, kita harus lari-lari menelusuri ITB dimana semua mahasiswa tingkat 2 keatas tuh ngumpul bejibun terus kayak ngeledekin kita, contoh: “kalian tuh bukan calon pemimpin global tapi pemimpin gombal”, “bangga lo masuk ITB?”, “lari gitu aja lo lelet gimana mau lari ngejar cita-cita?”. Semacam begitu -_- gila itu rame banget kayak pasar isinya ledekan semua tapi bagi gue itu seru, gue merasa tertantang *ceh. Terus pas hari terakhir, kami ketemu lagi sama massa kampus, bedanya mereka sekarang benar-benar menghujani kami dengan pertanyaan-pertanyaan dan kami harus jawab itu semua. Tapi tentunya, gaya nanya mereka gak yang nyantai penuh kasih saying melainkan dengan “urat” dan penuh dengan kata-kata “JAWABAN KAMU GAK REALISTIS” atau “SAYA KURANG PUAS DENGAN JAWABAN ITU” atau “JANGAN BERTELE-TELE!”. Nah terus yang gue suka juga tuh kakak-kakak nyiapin drama buat opening dan closing OSKM, dan bagi gue dramanya bagus. Semua unsurnya mengalir dengan professional. Yang paling menyentuh hati pas closing OSKM yang udah jam 6 sore itu diterbangkan banyak lampion yang menyala-nyala. Terus juga diterbangkan seikat balon yang udah kami (3400 mahasiswa baru) tandatangani dan dibawahnya diikatkan kain dengan tulisan Integrasi Untuk Indonesia sebagai motto dari OSKM 2012. Abis itu bukber bareng di lapangan Teknik Sipil dan kak Farhan, Candra, dan kak Lia cerita horror yg ada di ITB maupun Bandung. Anjrot, kalo bukan karena capek banget, gue mungkin gak bisa tidur malem2nya. Yang bikin males tuh si Azam yang suka teriak ditengah-tengah cerita, gue sama Ifa (marmut kecil dari SF) jadi ikutan jerit wkwk, cups banget kita.

Masih banyaaaaaaaaaaak banget yang seru tapi segitu aja deh ya, nanti kalian juga bosen bacanya *sekarang juga udah bosen kali Cha* wkwk. Semoga kekeluargaan yang udah tercipta di Friendzone dan solidaritas sebagai angkatan 2012 tidak akan pernah pudar selamanya. SALAM GANESHA, BAKTI KAMI UNTUKMU; TUHAN, BANGSA, DAN ALMAMATER, MERDEKA! MERDEKA! MERDEKA!

Anti risau, anti galau, Friendzone cups!
Lampion
We :)

7.16.2012

Salam Ganesha!


Halo kawan-kawan semua, maafkan aku yang sudah lama hilang dari peredaran blog sampah ini. Sebagaimana orang-orang was-was apakah dapet kuliah tahun ini, begitu pula dengan gue. Gue mau share sedikit cerita perjalanan gue mencari kuliah, semoga bisa menjadi motivasi *tumbenbaiksamaorang.

Awalnya, gue menjadi salah satu kandidat dari SNMPTN Undangan. Yang gak tau apa itu SNMPTN Undangan, itu adalah salah satu tiket menuju bangku kuliah dengan syarat nilai raport lu dari semester 1-5 harus tinggi (yaa gak usah tinggi-tinggi banget juga sih, ntar mentok atap *eh). Niat awal gue adalah menjadi dokter, tapi setelah didiskusikan dengan ortu, ternyata mereka pengen gue sekolah di SBM ITB. Mengapa? Ada beberapa hal dan ini sangat subjektif, jadi wajar kalo kalian gak setuju :D Bokap pengen gue nggak jadi karyawan tapi justru menjadi orang yang punya usaha, lapangan kerja, dan bisnis. Jadi gue nggak perlu susah2 cuti, nggak perlu banting tulang kerja ampe subuh, bisa punya banyak waktu dgn anak2 gue kelak. Istilahnya kalo dari bokap tuh “Jangan kerja untuk uang, tapi uang yang bekerja untuk kamu.” Bokap juga bilang “uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang.” Dan siapa rata-rata orang yang beruang (bukan beruang madu atau beruang kutub) itu? Kalo kata bokap sih, investor dan para pebisnis. Yaudahlah gue isi tuh SBM ITB di pilihan SNMPTN Undangan. Pilihan gue cuma satu, karena emang gue niatkan jiwa & raga ini ke SBM, dan biar ITB tau meski gue anak IPA, gue yakin banget mau kuliah di jurusan IPS. Hasilnya? Gue ditolak. Ngepet.

Gue bermuram durja beberapa hari, sedih banget, sesuatu yang gue harapkan tidak bisa diraih dengan cara semudah itu ternyata. Bokap sampe bilang, “yaampun, kamu nggak usah nangis terus. Namanya juga undangan, kalo gak diundang ya gapapa dong. Jangan takut kalo emang jalan kamu ternyata harus lebih panjang daripada temen2 kamu. Harus berani berkompetisi.” Masih ada sekitar 2 minggu sebelum akhirnya tes SNMPTN Tertulis diadakan. Dan dalam rentang waktu segitu gue bimbel ngambil IPC, karena pikir gue kalo IPC enak bisa ambil 3 pilihan. Sayangnya, gue bimbel IPSnya suka absen. Gue niat banget belajar, tapi belajar sendiri. Dengan berbekal buku2 IPS dari Saras, gue ngerem di kamar kayak ayam lagi bertelur. Berbekal nalar2 dan imajinasi aneh, gue mengerjakan soal2 TO dari bimbel gue. Puji Tuhan, kalo TO nilainya mencapai target terus. Tapi badai tidak berhenti sampai disitu kawan. Beberapa teman gue dapet bangku kuliah lewat jalur PPKB. Untuk yg gak tau itu apa, itu sama aja kayak SNMPTN Undangan, tapi pilihannya khusus kelas parallel UI. Makin frustasi aja gue. Tapi untungnya orang2 di sekitar senantiasa memberi semangat. Oiya, buat yg penasaran akhirnya gue milih apa aja, gue pilih SBM ITB, Arsitektur UI, dan FKG UI. Bodohnya, pas ngisi borang, gue gatau kalo Arsi tuh butuh tes menggambar gitu, jadilah gue gak nyentang “mengikuti tes menggambar”, jadilah gue gak dapet tempat untuk tes-nya, jadilah pilihan Arsi gue tuh bullshit hahahaha.

Pas hari-H SNMPTN, gue kenalan sama anak Pulo Gadung, dia gak bawa papan dada terus gue ngibrit bawa dia ke toko alat tulis (Tokser, bagi anak Smansa pasti udah pada tau) yang letaknya agak jauh dari sekolah. Jadilah gue dan dia ngos2an. Tapi pikir gue, gapapa lah beramal, semoga dengan ini Tuhan bisa memudahkan jalan gue menuju ITB Dan pas dapet soal2 kemampuan IPS…. SUSAH. GEMBROT. BULU DOMBA. KOK BEDA SAMA SOAL TO?! Semenjak itu gue pesimis lagi krn selama ini gue lumayan bisa ngerjain TO tapi kenapa yang ini beda dengan prediksi? Gue jadi benci kalo denger orang “eh gue udah nyocokin sama kunci yang dikasih  bimbel gue dong, gue bener segini, lu berapa?”

Akhirnya, daripada buang2 waktu dengan berpesimis ria, gue pun belajar untuk SIMAK UI. Hari-hari gue dipenuhi kegelisahan. Papa berkali-kali bilang,”jadi orang sukses gak cuma lewat ITB atau sekolah negeri, kamu dapet swasta juga gak apa2.” Gue tau tapi gue gamau. Gue mau nunjukin kalo gue berani berkompetisi bahkan untuk wilayah nasional sekalipun, dan gue merasa meski soal kemarin susah, gue sudah mengerahkan yang terbaik. Akhirnya, doa gue setiap malam dijawab Tuhan pada tanggal 7 Juli. Gue nggak dapet tulisan “maaf” lagi, melainkan “selamat”. Puji Tuhan gue bisa jadi kebanggan keluarga. Dan semenjak saat itu, gue berjanji gak mau lagi jadi orang pesimis, gue harus yakin sama kemampuan gue sendiri, apalagi gue punya Tuhan yang pasti ngebantu gue. Gue nggak akan nyia2in sekolah di SBM ITB, dan gue akan berusaha sekuat tenaga lagi untuk mencapai visi sebagai mahasiswi terbaik SBM 2012-2015. Doakan ya kawan2. Gue juga senantiasa mendoakan kalian semoga kalian juga jauh lebih sukses
© A Myriad of Words
Maira Gall