Tuesday, June 05, 2018

Update Kehidupan di Pertengahan 2018


Gila, udah pertengahan tahun aja lho! Perasaan baru kemarin kick-off meeting awal tahun di Anyer! Time flies so freakin fast! Btw, aku lagi gatel pengen cerita tentang kehidupan. Padahal gak ada juga yang baca, tapi aku gak peduli sih sayangnya hehehehehe. Agak sotoy emang anaknya. Ini sebenernya lebih pengen ke update tentang kehidupanku, supaya aku di masa depan gak lupa akan apa yang terjadi, akan alasan yang tersembunyi dibalik pilihan-pilihan yang aku buat, dan untuk mengenang memori tentang perjuangan.
-------------------------------------------------------------------------- 
So now, let’s talk about my job again, maybe? Tentunya dalam bekerja sempat bosan ya, bahkan ketika aku sudah bekerja di industri yang aku senangi. Kurang lengkap apalagi coba? Aku suka fashion dan bisnis, Tuhan kasih sebuah fashion company yang punya system manajerial cukup mapan sebagai ladang aku mencari ilmu. Nyobain jadi textile illustrator, pernah. Jadi production team, pernah. Jadi marketer, pernah. Termasuk ngurusin B2B dengan international buyer, pernah. Terus sempat stagnant tuh saat aku disuruh pegang sosial media beberapa bulan. Rasanya agak bosan karena kurang challenge dan cenderung repetitive gitu pola kerjanya. Then guess what? Terhitung bulan depan, aku akan pegang posisi Sales Strategist. A new role again! Dan gak tau kenapa, rasanya kok berapi-api lagi. Karena memang selama hampir setahun kerja di fashion company ini, hal terseru datang ketika bisa berinteraksi langsung dengan para client. Melayani mereka dengan hati, memberi saran dengan jujur, dan ketika mereka beli barang lalu menyatakan puas terhadap produk dan layanan yang diberikan, rasanya ikutan senang. Apalagi kalau berhasil me-maintain client untuk tetap loyal dan mendengar what they really want with our clothes as medium. Rasanya all the hard work paid off! Serunya lagi adalah, as Sales Strategist, udah gak lagi cuman mikirin 1 brand aja, tapi all brands (including ready-to-wear and couture). Oh people, trust me, I love new challenge, and this is an answer to my prayer!



--------------------------------------------------------------------------
Nah, nextnya ngomongin apa ya. Mungkin lebih ke tentang finansial. It feels great to finally find a rhythm to save money, to invest money, and to allocate money properly. Senang bisa ikut bantu bayar-bayar kebutuhan rumah tangga. Senang bisa langganan Spotify dan Netflix tanpa minta papa mama. Senang kalau bisa nabung minimal 20% setiap bulannya. Senang bisa ngasih uang ke adik sebagai modal bisnis dia. Senang bisa punya alokasi dana untuk investasi (tapi belum direalisasikan, karena belum sempat mencermati what kind of investment that suits me). Intinya lagi senang karena bisa disiplin sama keuangan sendiri. Semoga bisa bertahan seperti ini terus, hehehe.



--------------------------------------------------------------------------
Terus, pastinya gak akan ketinggalan pengen ngomongin calon hakim favoritku, yang dari bulan ke bulan kalo ngirim foto seperti terlihat semakin gemuk ya ahahaha. Anyway, dari curhat-curhat via chat dan telepon yang selama ini kami lakukan, aku bisa menyimpulkan bahwa pekerjaan hakim itu risky sekali ya. Kadang agak bingung malah sama yang pekerjaannya memrioritaskan sosial / melayanai masyarakat kayak hakim, polisi, dokter, guru, dll gitu. Otak bisnis ku kadang melihat itu sebagai kondisi yang tidak win-win. Gini deh, hakim itu pekerjaan risky karena putusannya. The worst case I can think about is, ketika putusannya dirasa tidak adil oleh sekelompok orang, maka keamanan dia dan keluarganya akan terganggu. Padahal, hak kesejahteraan hakim belum 100% diberikan oleh negara. Jadi, apa yang menarik dari menjadi seorang hakim? Kadang aku suka nguji dia dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu, mengritisi sisi humanisnya. Dan selalu ia kembali dengan jawaban ia bangga mengemban tugas mulia sebagai wakil Tuhan untuk menegakkan keadilan di dunia yang terasa pincang. Terus aku tanya lagi, “tapi terus kalo gak sejahtera hidupnya gimana?Kamu sendiri aja gak sejahtera, apa bisa memperjuangkan kesejahteraan orang lain?” Guess what? Dia pernah kasih ayat paling relatable yang pernah gue baca: “berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya” – Amsal 10:22. Ayat penuh makna yang intinya ingin bilang, berkat dari Tuhan adalah kekayaan sejati yang didalamnya kita akan berbahagia menikmatinya. Mau kerja keras kayak kuda, kalau memang tidak diberkati Tuhan, mungkin kita tidak akan pernah bahagia atas apa yang didapat. Seperti itu kurang lebih hehehe. Kami percaya, ketika mengandalkan Tuhan dan bekerja dengan passion serta ketulusan, Ia pasti akan kasih berkat melalui cara apapun. So I embrace every possibilities that may come to us, yang penting dilalui bersama-sama dan dilandaskan akan kasih Kristus.  

Aku gak bercanda, dia gemukan! Tapi senang, jam tangan yang kukasih berguna dan dipake dan cucmey sama dia! Yay!

 E N D

Thursday, March 22, 2018

m o m e n t u m

Mohon maaf gambarnya jadi kecil, ini karena template blog ku yang minimalis haha. 
Silakan diklik gambarnya untuk memperbesar tampilan gambar. Enjoy!






Monday, January 01, 2018

Farewell 2017!

Happy New Year for all blogwalkers!  Hope that you guys are doing well and have the most relaxing holiday like I do. I’m writing this blog in Banjarmasin, sitting on my grandpa’s couch, snacking peanuts and Christmas cookies, while listening to hustle bustle of the street. Oh how I love this situation so much when I can peacefully live the present and being close with my family. Really, I do not know how to say it logically, but I think I’m a melancholy-Pisces (plus an introvert) at heart who adore peace and intimacy. Someday I wish I can spend my old days far from the city, probably in one the villages in New Zealand. Painting, cooking, and reading books with my loved ones. But, to afford it, I must live in my rushing-young-adult moment. If you want me to mention 3 highlights of 2017, I may say: get into my dream job, build a healthy relationship, and overcome depression. I want to share a bit details to all of you so let me do the story telling.

After 1 month of internship in MMAC Group (a company founded by Mel Ahyar, one of the most prominent fashion designer in Indonesia, and her smart husband, Mas Arie), I got offering to continue as a full-time employee through a “Take Off” program with 4 other girls. Basically, this program is similar to MT program in other companies, there are classes, trainings, and assessments for 5 months. Sounds boring, eh? Because I haven’t told everything yet! My excitement started when I was assigned in Happa (one of MMAC brand, focusing on women’s wear, inspired by culture) as marketer, copy writer, and textile designer. Yes! So many roles! And I like it being busy. I can still clearly remember my first-time Happa’s private show in Terrarium Rooftop Kuningan, my first-time do composition for fabric printing, my first-time fabric sourcing, my first-time serving high-end clients, my first-time overtime (which is now become a habit, lol), my first-time making printed fabric from scratch, my first-time making press release, my first-time handle daily instagram content, and another first-time I went through. I was also selected to be the chief of event (as well as chief of marketing) for annual festive sale which is quite a load to bear. These pain-in-the-ass of the so called “Take Off” program finally over and per January I am officially a full timer but no longer work for Happa but Mel Ahyar First to hold bigger responsibilities. Can’t wait for new challenges to come!

Now, it’s time to talk about my romance. Honestly, having relationship with this guy is the least dramatic relationship so far. It’s not about that he’s very patient or me giving up on things but more about both of us, in explainable ways, adjust our mind, heart, and behavior to create a peaceful relationship. As a human being, of course we have different thoughts and we must argue sometimes. But in the end, we respect each other’s perspective and try to merge them to eventually widen our way of seeing. Having this healthy relationship is also a blessing that I believe only come from God. I don’t know, I feel like God loves us when we’re together, so maybe that’s why. We support each other career of course. He never complains when I have so many things to do at work (which in contrary have less time for him), pour me with love when I’m about to give up, support me whenever I feel unable to accomplish my job. Both of us believe that God's plan on us is great. It's only because of Him that he is able to get his career as a judge in The Supreme Court of the Republic of Indonesia. The moment when he received the announcement, we were having a dinner so I was the first to know about the good news. With his teary eyes he praised the Lord then hugged me. I couldn’t ask for a better scenario, thank God :)

Lastly, this is the thing that I’m actually not comfortable of sharing it online. But you guys should know that my life sucks sometimes. The worst is when I had family issues. A deadly combination of pressure and a bitter fact. I have no one to share at the moment because I want to keep it secret. I don’t want to share burden; not to my parents, my brother, my boyfriend, nor my closest friends. So, I hide the issues deep within me until I got depressed and lost the light of hope. Sometimes, an idea to commit suicide came across my mind. Then I started to think that I need to tell this to my boyfriend and closest friends (I even shared my lame stories to strangers too. I did it to let my anger and disappointment go). Surprisingly they were very supportive and did not judge me for my ridiculous tendency to end my life. If they were not there for me, maybe I was not able to write this. So, whoever read this with a heavy heart, depression, a load that you can’t keep yourself, please know that, yes you can’t bear it on your own. You need to share whatever it is. No matter how awful your problem is, I have mine too. When you want to share a story, I’m here to listen. Oh! And one trick: Even when it’s hurt, try to have persistent talk to God. It may seem that He doesn’t listen but He’ll answer gracefully. If He can help me, He can help you too, trust no one but Him. 

So, that's all about my highlights. Not everything was going well, but I believe there's a rainbow after the rain and day by day, I transform into a better fighter.
"A strong person is the one who knows how to be quiet, shed a tear for a moment, and then picks up their sword and fight again"

Tuesday, August 22, 2017

Perkenalan

Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Jadi, saya bermaksud berbagi sedikit cerita tentang siapa dia dan mengapa dia begitu berarti sampai-sampai saya harus membuat satu post khusus di blog ini. Tuhkan, pada melotot ngeliatin layar monitor, hehehe. Biasa aja kali, take it easy. Tarik nafas....hembuskan pelan-pelan. Kita mulai sekarang ya.

Pertama-tama, saya kenalin dulu. Namanya Erico. Nama panjangnya Erico Leonard Hutauruk. Keluarganya panggil dia Ico / Iko. Saya panggil dia Rico. Kalau saya lagi pengen manja sama dia, saya panggil dia Ikobana. Ikobana tuh padahal nama salah satu tenan penjual kain di Pasar Mayestik. Orang yang berkecimpung di dunia fashion pasti tahu haha. Ok skip. Erico itu pasangan saya, yang Tuhan pertemukan secara ajaib melalui sosial media. Saya belum mau ceritain gimana pertemuan kami di sosial media yang ajaib (dan rasanya agak geli kalo diinget) karena rencananya tulisan mengenai itu akan dibuat untuk merayakan anniversary kami nanti (we've been dating for 6 months anyway hehehe). And talking about God, Tuhan itu benar-benar Maha Mengerti ya. Saya awalnya memang punya sederet list kriteria seperti apa pasangan idaman saya, saya akuin hampir semua dari list itu mengarah pada kriteria fisik dan hal-hal yang setelah saya sadari ternyata….agak receh yha. Guess what? Tuhan sempat kasih orang yang memenuhi 9 dari 10 list itu.

AND...
Turned out hubungan saya sama orang itu fana banget.

Kesalahan itu bukan terletak di orang yang Tuhan sodorkan untuk saya, namun di kriteria yang saya panjatkan dalam doa. Saya jadi paham, ketika mendoakan pasangan itu gak boleh main-main dan usahakan jangan terlalu naif. Untuk memiliki hubungan yang dalam dan kuat, selain beralaskan pada Tuhan itu sendiri, juga harus didukung oleh karakter pasangan kita. Dan waktu itu saya lupa berdoa untuk memiliki pasangan dengan karakter yang saya inginkan (dan sekiranya bakal balance sama saya). Setelah berhasil menata hati dan merevisi kriteria. Saya berdoa lagi dan munculah sosok ini di hidup saya (tring!) (kok jadi kayak sulap). Sosok yang mau bersama-sama saling menguatkan di dalam Tuhan. Sosok yang selalu menjadi air ditengah api yang kerap membara di hati saya. Sosok dengan kesabaran yang tak berkesudahan dalam merespon saya yang masih suka jadi drama queen dan childish. Sosok yang menghormati saya sebagai perempuan, termasuk menghargai hak dan cita-cita saya. Sosok yang terbuka dengan berbagai ilmu pengetahuan, termasuk mau belajar memahami dunia dan keilmuan saya. Sosok yang mendorong saya untuk berkembang lebih jauh. Sosok yang gak marah pas saya banyak nanya tentang dunianya, karena baginya dengan kami saling berbagi dan menceritakan dunia kami, in some ways bisa membuat hubungan kami semakin kaya akan makna.

Erico itu keturunan Batak-Cina yang tumbuh besar di Cirebon, kuliah di Yogyakarta, dan kini mengadu nasib di Jakarta. Jujur sepanjang saya hidup, gak pernah kepikiran bisa punya pasangan seorang associate lawyer karena di otak saya yang terbayang ketika dengar pengacara tuh sosok yang kaku, suka berdebat, keras kepala, dan banyak tipu muslihat. Tapi yang bikin saya jatuh cinta adalah he is not like the rest of them, dia seorang praktisi hukum dengan habit yang tidak suka berdebat. Sebaliknya, pendekatannya adalah melalui jalur diskusi dan pemaparan fakta. Dia terapkan itu ketika bekerja maupun ketika lagi berbincang dengan saya. Pembawaannya tenang dan ringan. Termasuk ketika saya lagi sangat emosi sampai menangis, dia tetap tenang, dan melakukan jurus andalannya: ngepuk-puk kepala saya. Kyubi di dalam diri saya pun melunak kalau sudah begitu. Orangnya lugas, jujur, jauh dari tindakan yang penuh tipu muslihat hahaha (udah kayak slogan channel berita).

Oiya, kalau kalian ketemu dia. Mungkin kalian mengira saya lagi pacaran sama anak SMA (padahal, dia 2 tahun lebih tua dari saya!). Dengan muka saya yang juga kayaknya gak dewasa-dewasa amat, mba-mba UNICEF di mall yang minta kami mengisi survey pernah percaya pas saya bilang saya SMP dan dia SMA. Tapi mukanya emang awet muda, entah susuk apa yang dia pakai. Mukanya adem, enak buat diliat lama-lama. Terus nanti saya tiba-tiba malu sendiri karena tanpa sadar saya ngeliatin dia gak pake ngedip. Oiya, satu hal lagi yang khas dari dia, dia itu sangat mencintai Indonesia. Orang yang menghargai leluhur dan budaya bangsa ini. Selain senang nonton siaran ulang pertandingan bola di Youtube, dia juga suka nonton video orang lagi memainkan alat musik daerah.

CAN YOU IMAGINE THAT SORT OF THING? At first, saya juga gagal paham.

Sosok yang inspirasional buat dia adalah Tan Malaka dan Soe Hok Gie. Dan! Kalau dia lagi make baju batik emang gantengnya jadi berkali-kali lipat, cocok banget. Dia juga salah satu kolektor syal dari kain nusantara. Salah satu cita-cita dia tuh bisa ke menjelajahi seluruh pelosok Indonesia dan berkontribusi penuh untuk ibu pertiwinya ini. Dia biasanya bakal agak naik nada bicaranya kalau saya dengan arogan lebih membanggakan negara lain daripada Indonesia (hehehe, ya gimana ya, bitter truth sih emang #teteup). Gak nyangka sih saya yang mindsetnya luar negeri bisa akur sama orang yang nasionalis begini. Namun, segala kekurangan kami selalu bisa diatasi dengan sifat dia yang pengayom dan penyabar, yang eventually menyeret saya untuk mulai berperilaku demikian. Saya gak tahu bagaimana Tuhan membentuk dia melalui kehidupannya yang terdahulu, hingga dia bisa mencapai titik ini. The way he deals with differences, the way he controls fear and anger, the way he solves problems, the way he gives me challenges (to come up with a better solution), the way he radiates positive vibes, all of them are fascinating to me and sometimes even seems beyond common sense. Dia itu kayak manusia yang abis bertapa bertahun-tahun di Gunung Tibet terus keluar-keluar udah jadi "manusia baru". Kadang saya suka berkhayal sih, pengen menjelajahi waktu dimana dia masih lebih muda dan (katanya) nakal. Tapi yang pasti, saya bersyukur dipertemukan sama laki-laki ini ketika dia sudah jauh berubah dan saya juga sudah gak seburuk dulu hehehe. 

Lastly, untuk menutup postingan kali ini, sekali lagi saya ucapkan selamat ulang tahun dari lubuk hati yang terdalam untuk Ikobana. Terima kasih sudah menjadi anak Tuhan yang baik selama ini. Semoga di tahun-tahun selanjutnya Tuhan selalu memberi kamu kekuatan jasmani, hikmat, dan rejeki. Semoga rencana-rencana kamu yang sudah kamu buat, didengar oleh Tuhan dan Ia berkati supaya yang terbaik yang boleh terjadi di hidup mu. Amin!

Note. Dia baru 3x ngomong gini, tapi ini kalimat favorit saya yang selalu bikin terenyuh karena sebelumnya saya (biasanya) habis marah besar atau melakukan tindakan konyol yang bisa bikin dia tersinggung atau sakit hati. But instead of being offended, he said this:
"Aku udah maafin kok sebelum kamu minta maaf"
....And I can truly feel his sincerity.
© Ichacho
Maira Gall