Wednesday, August 22, 2018

What My Lover Taught Me About: Fight


Hi everyone! Disela-sela kerjaan yang semakin membabi buta (which sadly I can’t really enjoy doing it lately, mungkin karena ada beberapa hal yang menyalahi cara berpikirku), izinkan aku meracau sedikit disini hahaha. Hitung-hitung melepas penat juga sih. So, can we start?

Jadi gini, di umur-umur segini, setiap kali ketemu teman wanita untuk ngobrol, biasanya aku suka dibombardir sama pertanyaan-pertanyaan seputar hubungan ku dengan pacar. Nah the most frequent question yang suka dilontarkan adalah: “Kalian suka berantem gak sih?” Nah loh, biasanya yang nanya gini kepo bagaimana caranya keluar dari momen-momen berantem saat pacaran.

Mereka berharap aku bisa kasih solusi kalau memang aku suka berantem sama pacarku. But I have to say that aku jarang banget berantem. Sejarang itu. Big fights are rare to occur. Karena? Karena dianya sabar menghadapi aku yang drama queen. Sesabar itu sampai aku kadang suka bertanya-tanya sendiri ini pacarku manusia apa bukan. Tapi gini, dia itu ESTJ, aku INFJ. Dia Leo, aku pisces. Dia bekerja di jalur hukum, aku di industri kreatif. Dia anak kedua, aku anak pertama. Dan, masih banyaak lagi perbedaan signifikan diantara kami berdua. Yang membedakan adalah dia sosok yang mau membuka pikiran dan hatinya untuk segala jenis perbedaan. Dia malah senang belajar tentang hal-hal baru yang melekat pada kehidupan ku. Dia juga tipe orang yang sama sekali gak masalah kalau dikritik (selama masih masuk ke logikanya, dia justru akan dengan senang hati dikritik). Pernah suatu ketika, saat LDR menghadang, kami kontakan terus melalui telepon. Tapi ada suatu kondisi dimana dia gak bisa fokus ngobrol di telepon sama aku karena sambil ngobrol gitu dianya sama temen-temen satu kosan. Lalu mengamuklah drama queen ini, kira-kira percakapannya gini,

A: Co, kita tuh bisa telponan gini susah. Sinyal Depok-Mandailing Natal tuh suka putus-putus. Kamu mbok ya hargain dong kalo kita lagi on call, fokus sama aku dulu. Teleponan juga gak seharian. Apa susahnya sih? (suara bergetar bak ingin menangos)
B: Maaf ya Cha, aku lagi main-main di kamar teman kami soalnya. Ini aku ke kamar ku dulu deh. Sebentar ya Cha (dengan suara tenang)
A: Kalau mau ngobrol-ngobrol sama temen-temen ya silakan aja. Tapi satu-satu gitu lho, jangan akunya dicuekin dan kamunya asik ngobrol
B: Aku minta maaf ya Cha. Aku akan berusaha gak ngulangin lagi kedepannya. Maafin ya, Cha.

Udah. Sebetulnya itu simpel, tapi he said it nicely and seemed to mean it. Terbukti dia sampai sekarang kalau timing ngobrol sama teman-temannya bentrok sama waktu teleponan kami ya dia bilang ke aku. Semacam ngasih info biar aku gak shock dan minta izin. Sebenarnya yang penting buat ku adalah ketika dia memposisikan aku sebagai orang yang cukup penting dan dia mau menghargai koreksi dari aku. It’s more than enough karena siapa sih yang gak pengen dianggap?

Sejujurnya, aku pun terus belajar sampai sekarang, gimana caranya bisa mencoba sesabar dan sepengertian dia. Tapi garis besar yang bisa aku tangkap adalah, yang penting kita punya empati terhadap apa yang dia rasakan. Trying to fit in their shoes to know what they feel. Dan, yang paling penting adalah jangan self-centered dan egois. Kayak di kasus diatas, kadang dia mau mendahulukan ngobrol sama teman-temannya ketimbang sama aku, that would be fine for me. Karena dia pun sudah ngasih tau, minta izin, dan aku ngebayangin kalau di posisi dia dan ternyata dilarang sama pasangan tuh rasanya pengen ngamuk sih. Huek.

Jadi, balik ke pertanyaan awal, kalau ditanya sering berantem apa enggak, no, jarang. Biasanya kalau udah debat dikit aja, salah satu diantara kami langsung mencoba cari win-win solutionnya. Dan aku, sebagai drama queen, berusaha gak membiarkan dia menebak-nebak kesalahan dia yang menyakiti aku hari itu. Dikasih tau aja secara jujur apa yang meresahkan hati karena aku tau dia bukan peramal yang bisa menyelami pikiran yang kadang suka moody gak jelas, ditambah dia orangnya logika banget, kadang mungkin dia mikir harusnya aku gak perlu kesal/sedih/kecewa. Tapi da gimana ya aku anaknya mudah baper. Ha.

Yaudah sekian aja dulu, semoga tulisan ini sedikit banyak membantu kalian dalam memperlakukan orang yang kalian sayangi. Wish your relationship is going well and full of blessing! Smell ya later!

No comments

Post a Comment

It would be nice to share thoughts, right? Anyway, if you feel attached with my articles and eager to get a quick response, do not hesitate to email me in clarissa.affandi@gmail.com. I will reply as fast I could.

© Ichacho
Maira Gall