12.19.2018

25 Advices Before You Turn 25


Hello people in this land called blog, akhirnya ada kesempatan (dan kemauan) untuk ngeblog lagi nih. Sempet mau nulis tentang pengalaman ikut WCCE 2018 (sebuah konferensi ekonomi kreatif di Bali) yang sensasional itu tapi terlampau malas karena udah banyak aku share juga kurang lebihnya di IG story hehehe. Jadi beberapa hari yang lalu sempat nanya ke teman-teman di Instagram tentang topik apa yang enak dibawain sebagai penutup tahun. Salah satu dari mereka membuat ide cemerlang dengan menyarankan aku bikin topik ini. Isinya benar-benar nasihat tentang kehidupan, seputar kehidupan percintaan, karir, hubungan dengan keluarga, friendship, dan hal-hal lain yang aku pelajari selama 24 tahun hidup di dunia (omo tahun depan udah 25 wadidaw). I just hope that each of you can enjoy these receh advices from me 😊

25 Advices Before You Turn 25
  1. Jika ada waktu dan kesempatan, ayo kejar ilmu setinggi-tingginya lewat sekolah dan sertifikasi. Di dunia professional, pendekatan secara formal lewat edukasi yang kamu kenyam akan sangat membantu. Aku bisa makin yakin di industri kreatif karena pernah ambil one-year course di ESMOD Jakarta setelah lulus dari SBM ITB, disana bisa belajar langsung jadi desainer dan jadi punya kesempatan lebih besar untuk kerja bareng fashion designer.
  2. Ayo belajar investasi sejak dini. At the very least, kita harus tau instrumen investasi tuh apa aja. Jangan anggap investasi itu adalah ilmu yang hanya mampu dimengerti lulusan finance ya, it’s just a myth! Coba follow @jouska_id deh biar makin tercerdaskan hehehe. 
  3. Cintai badanmu. Kita kerja keras sampai telat makan, sekalinya makan malah makan junkfood, gak sempet olahraga, begadang setiap hari, stres menahun, terus sekarat. Kamu yakin mau hidup menyedihkan begitu?
  4. Vokal. Utarakan isi otak dan perasaanmu. Most of people are not mind readers.
  5. Sebisa mungkin jangan terlalu khawatir soal karir. Yang penting do what makes you happy and fulfilled. Supaya apa? Supaya betah kerja meski gak dapet uang lembur, hari Sabtu tetap masuk kerja, minim apresiasi dari atasan, career path gak jelas, atau hal-hal lain yang bisa banget bikin kamu cepat resign atau menyerah sama bisnismu. Kamu harus cari hal yang membahagian kamu di tempat kerjamu. Kalau udah dicari sampai mentok ternyata gak ada yang bikin bahagia (lagi), ya berarti kebahagiaanmu ada di tempat lain. Hehe.
  6. Update CV secara berkala, atau di zaman digital ini ya update LinkedIn mu. Kamu gak tau kesempatan apa yang akan datang dari situ.
  7. Kalau memang mau, ya cari tahu.
  8. Doa itu sebaiknya cukup spesifik.
  9. Harus cobain hidup jauh dari keluarga. Ntah kuliah di luar kota, kerja di luar negeri, bebas. Dengan begitu kita akan belajar lebih mandiri dan bisa lebih memaknai kata “pulang”.
  10. Nikah bukan solusi. Jadi ayo mumpung masih belum menikah ini waktunya kita melakukan banyak aktualisasi diri secara leluasa hehehe.
  11. Usahakan punya teman dekat atau masuk ke suatu komunitas/organisasi. Kamu pasti butuh seseorang (ntah sebagai pengingat, pemacu semangat, role model), jadi jangan biarkan dirimu berjalan sendiri.
  12. Ikuti acara-acara (termasuk konferensi, bazaar, workshop) yang berkaitan dengan minatmu. Kenali pemain-pemain di industri tersebut. Sedikit banyak pasti akan membantumu di dunia kerja.
  13. Freelancing is OK! Trust me, you can make a living out of it.
  14. Kalau lagi mumet banget sama kerjaan kantor ya gak usah masuk aja sehari. Pura-pura sakit hehe.
  15. Kalau lagi gak mau banget diganggu malam-malam sama bos ya gak usah bales chat atau teleponnya. Kan bisa pura-pura tidur hehehe.
  16. Kalau lagi ngumpul sama keluarga, perbanyak ngelawak dan bikin orang tua ketawa ya. Senyum dan tawa renyah mereka akan jadi sumber semangat bagi hari-hari kita yang carut-marut.
  17. Everyone deserves a second chance.
  18. Jangan lupa pakai sunblock ya. Ini investasi yang baik untuk kulit.
  19. Kalau pasangan kita udah ogah-ogahan, jangan paksa mereka untuk stay. Let them go dan fokus pada kebahagiaan dan aktualisasi diri aja. God will make them regret just in time. 
  20. Jangan banyak berasumsi, nanti jadi luka sendiri.
  21.  Jangan takut berbuat salah, jangan gengsi meminta maaf.
  22. Tulis, tulis, tulis. Tulis apapun untuk membantu kamu mengingat, menyusun pikiran, menuangkan pendapat, mengatur emosi, dan merancang strategi.
  23. Perbanyak baca artikel, koran, dan buku. Most business founders and business leaders out there are readers. Tentu yang ada dibuku masih butuh penyesuaian dengan yang terjadi di realita, but at least we have the foundation, rite?
  24. Buy your parents a simple gift. Atau setidaknya traktir mereka makan atau nonton (atua hal-hal lain yang receh juga gak apa-apa). These small things mean the world to them so let them know that they are loved.
  25. STOP. COMPARING. YOUR. LIFE. You are one of a kind.

8.22.2018

What My Lover Taught Me About: Fight


Hi everyone! Disela-sela kerjaan yang semakin membabi buta (which sadly I can’t really enjoy doing it lately, mungkin karena ada beberapa hal yang menyalahi cara berpikirku), izinkan aku meracau sedikit disini hahaha. Hitung-hitung melepas penat juga sih. So, can we start?

Jadi gini, di umur-umur segini, setiap kali ketemu teman wanita untuk ngobrol, biasanya aku suka dibombardir sama pertanyaan-pertanyaan seputar hubungan ku dengan pacar. Nah the most frequent question yang suka dilontarkan adalah: “Kalian suka berantem gak sih?” Nah loh, biasanya yang nanya gini kepo bagaimana caranya keluar dari momen-momen berantem saat pacaran.

Mereka berharap aku bisa kasih solusi kalau memang aku suka berantem sama pacarku. But I have to say that aku jarang banget berantem. Sejarang itu. Big fights are rare to occur. Karena? Karena dianya sabar menghadapi aku yang drama queen. Sesabar itu sampai aku kadang suka bertanya-tanya sendiri ini pacarku manusia apa bukan. Tapi gini, dia itu ESTJ, aku INFJ. Dia Leo, aku pisces. Dia bekerja di jalur hukum, aku di industri kreatif. Dia anak kedua, aku anak pertama. Dan, masih banyaak lagi perbedaan signifikan diantara kami berdua. Yang membedakan adalah dia sosok yang mau membuka pikiran dan hatinya untuk segala jenis perbedaan. Dia malah senang belajar tentang hal-hal baru yang melekat pada kehidupan ku. Dia juga tipe orang yang sama sekali gak masalah kalau dikritik (selama masih masuk ke logikanya, dia justru akan dengan senang hati dikritik). Pernah suatu ketika, saat LDR menghadang, kami kontakan terus melalui telepon. Tapi ada suatu kondisi dimana dia gak bisa fokus ngobrol di telepon sama aku karena sambil ngobrol gitu dianya sama temen-temen satu kosan. Lalu mengamuklah drama queen ini, kira-kira percakapannya gini,

A: Co, kita tuh bisa telponan gini susah. Sinyal Depok-Mandailing Natal tuh suka putus-putus. Kamu mbok ya hargain dong kalo kita lagi on call, fokus sama aku dulu. Teleponan juga gak seharian. Apa susahnya sih? (suara bergetar bak ingin menangos)
B: Maaf ya Cha, aku lagi main-main di kamar teman kami soalnya. Ini aku ke kamar ku dulu deh. Sebentar ya Cha (dengan suara tenang)
A: Kalau mau ngobrol-ngobrol sama temen-temen ya silakan aja. Tapi satu-satu gitu lho, jangan akunya dicuekin dan kamunya asik ngobrol
B: Aku minta maaf ya Cha. Aku akan berusaha gak ngulangin lagi kedepannya. Maafin ya, Cha.

Udah. Sebetulnya itu simpel, tapi he said it nicely and seemed to mean it. Terbukti dia sampai sekarang kalau timing ngobrol sama teman-temannya bentrok sama waktu teleponan kami ya dia bilang ke aku. Semacam ngasih info biar aku gak shock dan minta izin. Sebenarnya yang penting buat ku adalah ketika dia memposisikan aku sebagai orang yang cukup penting dan dia mau menghargai koreksi dari aku. It’s more than enough karena siapa sih yang gak pengen dianggap?

Sejujurnya, aku pun terus belajar sampai sekarang, gimana caranya bisa mencoba sesabar dan sepengertian dia. Tapi garis besar yang bisa aku tangkap adalah, yang penting kita punya empati terhadap apa yang dia rasakan. Trying to fit in their shoes to know what they feel. Dan, yang paling penting adalah jangan self-centered dan egois. Kayak di kasus diatas, kadang dia mau mendahulukan ngobrol sama teman-temannya ketimbang sama aku, that would be fine for me. Karena dia pun sudah ngasih tau, minta izin, dan aku ngebayangin kalau di posisi dia dan ternyata dilarang sama pasangan tuh rasanya pengen ngamuk sih. Huek.

Jadi, balik ke pertanyaan awal, kalau ditanya sering berantem apa enggak, no, jarang. Biasanya kalau udah debat dikit aja, salah satu diantara kami langsung mencoba cari win-win solutionnya. Dan aku, sebagai drama queen, berusaha gak membiarkan dia menebak-nebak kesalahan dia yang menyakiti aku hari itu. Dikasih tau aja secara jujur apa yang meresahkan hati karena aku tau dia bukan peramal yang bisa menyelami pikiran yang kadang suka moody gak jelas, ditambah dia orangnya logika banget, kadang mungkin dia mikir harusnya aku gak perlu kesal/sedih/kecewa. Tapi da gimana ya aku anaknya mudah baper. Ha.

Yaudah sekian aja dulu, semoga tulisan ini sedikit banyak membantu kalian dalam memperlakukan orang yang kalian sayangi. Wish your relationship is going well and full of blessing! Smell ya later!

6.05.2018

Update Kehidupan di Pertengahan 2018


Gila, udah pertengahan tahun aja lho! Perasaan baru kemarin kick-off meeting awal tahun di Anyer! Time flies so freakin fast! Btw, aku lagi gatel pengen cerita tentang kehidupan. Padahal gak ada juga yang baca, tapi aku gak peduli sih sayangnya hehehehehe. Agak sotoy emang anaknya. Ini sebenernya lebih pengen ke update tentang kehidupanku, supaya aku di masa depan gak lupa akan apa yang terjadi, akan alasan yang tersembunyi dibalik pilihan-pilihan yang aku buat, dan untuk mengenang memori tentang perjuangan.
-------------------------------------------------------------------------- 
So now, let’s talk about my job again, maybe? Tentunya dalam bekerja sempat bosan ya, bahkan ketika aku sudah bekerja di industri yang aku senangi. Kurang lengkap apalagi coba? Aku suka fashion dan bisnis, Tuhan kasih sebuah fashion company yang punya system manajerial cukup mapan sebagai ladang aku mencari ilmu. Nyobain jadi textile illustrator, pernah. Jadi production team, pernah. Jadi marketer, pernah. Termasuk ngurusin B2B dengan international buyer, pernah. Terus sempat stagnant tuh saat aku disuruh pegang sosial media beberapa bulan. Rasanya agak bosan karena kurang challenge dan cenderung repetitive gitu pola kerjanya. Then guess what? Terhitung bulan depan, aku akan pegang posisi Sales Strategist. A new role again! Dan gak tau kenapa, rasanya kok berapi-api lagi. Karena memang selama hampir setahun kerja di fashion company ini, hal terseru datang ketika bisa berinteraksi langsung dengan para client. Melayani mereka dengan hati, memberi saran dengan jujur, dan ketika mereka beli barang lalu menyatakan puas terhadap produk dan layanan yang diberikan, rasanya ikutan senang. Apalagi kalau berhasil me-maintain client untuk tetap loyal dan mendengar what they really want with our clothes as medium. Rasanya all the hard work paid off! Serunya lagi adalah, as Sales Strategist, udah gak lagi cuman mikirin 1 brand aja, tapi all brands (including ready-to-wear and couture). Oh people, trust me, I love new challenge, and this is an answer to my prayer!



--------------------------------------------------------------------------
Nah, nextnya ngomongin apa ya. Mungkin lebih ke tentang finansial. It feels great to finally find a rhythm to save money, to invest money, and to allocate money properly. Senang bisa ikut bantu bayar-bayar kebutuhan rumah tangga. Senang bisa langganan Spotify dan Netflix tanpa minta papa mama. Senang kalau bisa nabung minimal 20% setiap bulannya. Senang bisa ngasih uang ke adik sebagai modal bisnis dia. Senang bisa punya alokasi dana untuk investasi (tapi belum direalisasikan, karena belum sempat mencermati what kind of investment that suits me). Intinya lagi senang karena bisa disiplin sama keuangan sendiri. Semoga bisa bertahan seperti ini terus, hehehe.



--------------------------------------------------------------------------
Terus, pastinya gak akan ketinggalan pengen ngomongin calon hakim favoritku, yang dari bulan ke bulan kalo ngirim foto seperti terlihat semakin gemuk ya ahahaha. Anyway, dari curhat-curhat via chat dan telepon yang selama ini kami lakukan, aku bisa menyimpulkan bahwa pekerjaan hakim itu risky sekali ya. Kadang agak bingung malah sama yang pekerjaannya memrioritaskan sosial / melayanai masyarakat kayak hakim, polisi, dokter, guru, dll gitu. Otak bisnis ku kadang melihat itu sebagai kondisi yang tidak win-win. Gini deh, hakim itu pekerjaan risky karena putusannya. The worst case I can think about is, ketika putusannya dirasa tidak adil oleh sekelompok orang, maka keamanan dia dan keluarganya akan terganggu. Padahal, hak kesejahteraan hakim belum 100% diberikan oleh negara. Jadi, apa yang menarik dari menjadi seorang hakim? Kadang aku suka nguji dia dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu, mengritisi sisi humanisnya. Dan selalu ia kembali dengan jawaban ia bangga mengemban tugas mulia sebagai wakil Tuhan untuk menegakkan keadilan di dunia yang terasa pincang. Terus aku tanya lagi, “tapi terus kalo gak sejahtera hidupnya gimana?Kamu sendiri aja gak sejahtera, apa bisa memperjuangkan kesejahteraan orang lain?” Guess what? Dia pernah kasih ayat paling relatable yang pernah gue baca: “berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya” – Amsal 10:22. Ayat penuh makna yang intinya ingin bilang, berkat dari Tuhan adalah kekayaan sejati yang didalamnya kita akan berbahagia menikmatinya. Mau kerja keras kayak kuda, kalau memang tidak diberkati Tuhan, mungkin kita tidak akan pernah bahagia atas apa yang didapat. Seperti itu kurang lebih hehehe. Kami percaya, ketika mengandalkan Tuhan dan bekerja dengan passion serta ketulusan, Ia pasti akan kasih berkat melalui cara apapun. So I embrace every possibilities that may come to us, yang penting dilalui bersama-sama dan dilandaskan akan kasih Kristus.  

Aku gak bercanda, dia gemukan! Tapi senang, jam tangan yang kukasih berguna dan dipake dan cucmey sama dia! Yay!

 E N D

3.22.2018

m o m e n t u m

Mohon maaf gambarnya jadi kecil, ini karena template blog ku yang minimalis haha. 
Silakan diklik gambarnya untuk memperbesar tampilan gambar. Enjoy!






1.01.2018

Farewell 2017!

Happy New Year for all blogwalkers!  Hope that you guys are doing well and have the most relaxing holiday like I do. I’m writing this blog in Banjarmasin, sitting on my grandpa’s couch, snacking peanuts and Christmas cookies, while listening to hustle bustle of the street. Oh how I love this situation so much when I can peacefully live the present and being close with my family. Really, I do not know how to say it logically, but I think I’m a melancholy-Pisces (plus an introvert) at heart who adore peace and intimacy. Someday I wish I can spend my old days far from the city, probably in one the villages in New Zealand. Painting, cooking, and reading books with my loved ones. But, to afford it, I must live in my rushing-young-adult moment. If you want me to mention 3 highlights of 2017, I may say: get into my dream job, build a healthy relationship, and overcome depression. I want to share a bit details to all of you so let me do the story telling.

After 1 month of internship in MMAC Group (a company founded by Mel Ahyar, one of the most prominent fashion designer in Indonesia, and her smart husband, Mas Arie), I got offering to continue as a full-time employee through a “Take Off” program with 4 other girls. Basically, this program is similar to MT program in other companies, there are classes, trainings, and assessments for 5 months. Sounds boring, eh? Because I haven’t told everything yet! My excitement started when I was assigned in Happa (one of MMAC brand, focusing on women’s wear, inspired by culture) as marketer, copy writer, and textile designer. Yes! So many roles! And I like it being busy. I can still clearly remember my first-time Happa’s private show in Terrarium Rooftop Kuningan, my first-time do composition for fabric printing, my first-time fabric sourcing, my first-time serving high-end clients, my first-time overtime (which is now become a habit, lol), my first-time making printed fabric from scratch, my first-time making press release, my first-time handle daily instagram content, and another first-time I went through. I was also selected to be the chief of event (as well as chief of marketing) for annual festive sale which is quite a load to bear. These pain-in-the-ass of the so called “Take Off” program finally over and per January I am officially a full timer but no longer work for Happa but Mel Ahyar First to hold bigger responsibilities. Can’t wait for new challenges to come!

Now, it’s time to talk about my romance. Honestly, having relationship with this guy is the least dramatic relationship so far. It’s not about that he’s very patient or me giving up on things but more about both of us, in explainable ways, adjust our mind, heart, and behavior to create a peaceful relationship. As a human being, of course we have different thoughts and we must argue sometimes. But in the end, we respect each other’s perspective and try to merge them to eventually widen our way of seeing. Having this healthy relationship is also a blessing that I believe only come from God. I don’t know, I feel like God loves us when we’re together, so maybe that’s why. We support each other career of course. He never complains when I have so many things to do at work (which in contrary have less time for him), pour me with love when I’m about to give up, support me whenever I feel unable to accomplish my job. Both of us believe that God's plan on us is great. It's only because of Him that he is able to get his career as a judge in The Supreme Court of the Republic of Indonesia. The moment when he received the announcement, we were having a dinner so I was the first to know about the good news. With his teary eyes he praised the Lord then hugged me. I couldn’t ask for a better scenario, thank God :)

Lastly, this is the thing that I’m actually not comfortable of sharing it online. But you guys should know that my life sucks sometimes. The worst is when I had family issues. A deadly combination of pressure and a bitter fact. I have no one to share at the moment because I want to keep it secret. I don’t want to share burden; not to my parents, my brother, my boyfriend, nor my closest friends. So, I hide the issues deep within me until I got depressed and lost the light of hope. Sometimes, an idea to commit suicide came across my mind. Then I started to think that I need to tell this to my boyfriend and closest friends (I even shared my lame stories to strangers too. I did it to let my anger and disappointment go). Surprisingly they were very supportive and did not judge me for my ridiculous tendency to end my life. If they were not there for me, maybe I was not able to write this. So, whoever read this with a heavy heart, depression, a load that you can’t keep yourself, please know that, yes you can’t bear it on your own. You need to share whatever it is. No matter how awful your problem is, I have mine too. When you want to share a story, I’m here to listen. Oh! And one trick: Even when it’s hurt, try to have persistent talk to God. It may seem that He doesn’t listen but He’ll answer gracefully. If He can help me, He can help you too, trust no one but Him. 

So, that's all about my highlights. Not everything was going well, but I believe there's a rainbow after the rain and day by day, I transform into a better fighter.
"A strong person is the one who knows how to be quiet, shed a tear for a moment, and then picks up their sword and fight again"
© A Myriad of Words
Maira Gall