5.22.2014

Kemana Saya? Kemana Saya? Kemana Saya?

Duh, rindu sekali mendenyutkan tombol-tombol abjad di keyboard laptop untuk nulis di blog. Sudah lama ya tidak menulis jurnal pribadi disini, ya gue sadar gue sudah terlalu lama terseret ke dunia nyata. Sekarang gue lagi semester pendek (semester 6) lho buat yang ingin tahu (padahal gak ada juga yang kepo). Bila ditanya bagaimana rasanya meninggalkan semester 5 dengan segala kesibukan alias kebrengsekkannya, gue akan menjawab, "GOKIL GILA BANGET WOY! GUE DIPERBUDAK!"

Oke, ngomong-ngomong soal diperbudak, gue yakin gak cuman gue yang merasa diperbudak sama matkul di SBM semester 5. Gue akan ceritakan kronologis ceritanya secara garis besar. Kami disini harus membuat perusahaan yang menjual produk berbasi teknologi, kami harus membuat business plan, dan kami harus presentasi di depan bank dan berusaha agar modal awal kami didanai oleh bank tersebut. Selanjutnya, kami harus berjualan dan terjun langsung ke lapangan selama 5 bulan. Kami harus muter otak gimana caranya produk kami terjual sesuai dengan sales projection di awal. Nah, sekarang saatnya berbicara tentang perusahaan saya, Alore Company. Alore Company ini adalah perusahaan yang menjadi supplier sekaligus seller dari bakso rumput laut yang bernama Bakso Sibols. Dengan menggunakan teknologi pangan (mengubah rumput laut menjadi bentuk tepung/bubuk), kami belajar dari "guru" kami di Semarang bagaimana membuat bakso rumput laut yang enak. Kami tetap menggunakan daging sapi, namun hanya kualiatas nomor satu lah yang kami pilih (tidak ada jeroan, otot, ataupun urat), lalu kami campurkan daging yang sudah digiling tersebut bersama tepung rumput laut dan mengolahnya menjadi bakso-bakso. Mungkin semua orang bertanya, kesulitan apa yang kami hadapi? Dimulai dari harus rutin ke pasar jam 6 pagi, harus kenalan sama semua pedagang tempat kami beli ingredients (kalau mau harganya diskon), lalu kami harus produksi berpuluh-puluh kilo. Ya! Kami membulatkan bakso-bakso tersebut sendiri, mengguling-gulingkannya diatas adonan tepung, memasukannya ke dalam packaging lalu menguncinya dengan sealer! Wah sensasi meniti bisnis dari nol itu luar biasa lelahnya. Jam istirahat pun terganggu, matkul-matkul lain yang dianggap tidak penting kadang dikorbankan. Contohnya saja gue dan beberapa teman Alore bolos matkul agama demi jualan bakso ke kantor-kantor dinas di Bandung dan nawarin ke ibu-ibu Dharma Wanita yang lagi olahraga jam 7 pagi (pas banget gue matkul agama juga mulai jam 7 pagi). Lalu kami juga menumpahkan berton-ton keringat dan air mata dalam menjual dan menghitung arus kas. Ya namanya perusahaan makanan, setiap hari penjualan kami jumlahnya banyak, bon-bon pun bertebaran dimana-mana, stres rasanya kalau satu bon aja ilang, makin stres lagi kalau udah bikin grafik sales terus ternyata di bulan tertentu grafiknya turun. 

Namun, guru yang paling berharga memang pengalaman. Gue akui sangat banyak pelajaran yang didapat dari menjual 33.000 butir bakso ke seluruh Indonesia. Gue belajar profesional, segala kemumetan gue di perusahaan tidak boleh membuat gue malas belajar matkul yang lain atau malas di organisasi yang lain, dan vice versa. Segala kegagalan itu tidak ada, yang ada hanya kesuksesan atau proses pembelajaran. Gue belajar untuk mencari solusi dengan cepat karena total waktu yang kami miliki untuk berjualan pun tidak banyak. Gue belajar bahwa sesungguhnya matkul di SBM tuh NO SLAVERY! Yang ada hanya lah kamu diajarkan untuk bekerja di bawah tekanan. Dan karena gue bekerja di bidang marketing maka pelajaran itu yang paling banyak gue dapatkan, tentang bagaimana memasarkan produk seefektif mungkin, efektif berarti low cost  dan shot on target. Atas kerja keras setiap individu dan khususnya ketelitian financial team, perusahaan kami mendapat penghargaan The Best Financial Report. Untuk yang mau tau kelanjutan Bakso Sibols, YA! kami tetap berjualan meski matkulnya sudah berakhir, atas perminataan pasar dan tingginya antusias masyarakat untuk menjadi parner kemitraan dari kami, maka bisnis ini kami lanjutkan. 7 tahun lagi kalian akan lihat ada restoran di Bandung dengan nama Bakso Sibols! Yeah!

Oke, lanjut ya soalnya kalau gue terusin bisa nulis berlembar-lembar hehe. Gue lagi aktif di Satoe Indonesia, khususnya di Program Development. Kami punya proyek yang namanya Ciwidey Pintar dan Funrun, nah kalau di Ciwidey Pintar tuh kami berusaha memandirikan desa dengan program-program pilihan di bidang olahraga, edukasi, dan kesenian. Tidak hanya sebagai mediator, kami juga terjun langsung ke lapangan. Tidak ada yang lebih membahagiakan ketimbang sudah dikenali oleh anak-anak disana, apalagi misalnya datang kesana terus ada yang lari terus meluk kaki gue sambil bilang, "KAK ICHAAAA!" Nah kalau di Funrun, itu acara funding-nya. Kami membuat sebuah lomba lari 5K untuk mendapatkan dana bagi operational cost kami. Funrun ini bakal dilaksanakan tanggal 7 Juni 2014 di Balai Kota Bandung dengan tema Bakar Bandoeng, jadi nuansanya nanti bakal serba merah gitcu dehhh cutie abizzzzz (?)

Terus, gue lagi nyoba aktif di organisasi ITB, ya kan gue anak ITB tapi kayak susah gerak gitu kan hidupnya terkurung dalam dunia SBM. Gue nyoba jadi finance team di kepanitiaan ospek ITB. Kok sok uang-uang gitu sih hidup lu, Cha? Iya nih, soalnya gue ambil finance sebagai major gue.....so......begitulah hehehe sedikit ambisius di bidang tersebut. Yasudah, sekian informasi dari gue, btw buku Rich Dad Poor Dad karya Robert T. Kiyosaki bagus banget! Gue merasa dibukakan mata batinnya, buruan beli sebelum habis ya! See you!


© A Myriad of Words
Maira Gall