Thursday, October 01, 2015

Lulus Sarjana (part 2)

And now, the time has come as I promised to tell the second part of my current life, which is my working life! *taraa* *hyper glorious back sound*

Kemarin, adalah hari terakhir gue magang di Mediatrac. Sesungguhnya gue dikontrak menjadi anak magang selama 3 bulan tapi berhubung gue cuti 3 minggu buat konferensi dan sidang, alhasil gue nambah kontrak menjadi 4 bulan. Selama disana, jujur gue pernah bosan (atau ini karena emang gue anaknya demen mobilitas apa gimana gue juga masih kurang paham). Tapi yang seru disana adalah environment nya which is itu yang bikin gue agak hampa ketika harus menyelesaikan magang gue disana (ditambah lagi, disana sedang tidak ada job opportunity). In Mediatrac, semua orang seru! Dibalik kehidupan professional mereka yang menuntut mereka kerja in a fast paced and under pressure, mereka adalah jiwa-jiwa  muda yang sangat diverse. Ada yang demen make up, ada yang seniman, ada yang kpop dan jpop maniac, ada yang gamer sejati, ada yang demen Attack on Titan kayak gue *nangis darah saking seneng*, ada yang maniak dunia consulting, ada yang coffee freak, ada yang demen ngatain orang, ada yang demen dengan dunia entrepreneur, dan masih banyak lagiiii! Saking fun dan creativenya orang-orang disana, ada ruangan khusus bersantai yang diberi nama Green Room (jadi setiap ruangan dikasih nama berdasarkan warna gitu). Di Green Room ada bantal-bantal dan selimut untuk tidur, meja-meja kecil macam anak TK juga ada jadi kalau nugas sambil lesehan bisa, dan yang epic adalah: ada TV yang super HD lengkap dengan PS3 dan CD games nya. Kadang kalau sore yang cowok-cowoknya  suka pada main Football Manager atau nggak main game tembak-tembakan gitu hahahaa whatta super duper dreamy office. Di ruangan itu pula segala snack, macaroni SD yang pedesnya bikin bego, pizza, dan leker disantap habis oleh manusia-manusia Mediatrac.

User a.k.a supervisor gue namanya Kak Nisa; orangnya baik, amat pengertian, punya sedikit jiwa entrepreneur, dan sangat  kritis. Kalo gue ngasih data atau findings doi pasti nanya, “kenapa” sampai 5-7 kali. Gue tau banget itu karena dia pengen gue jeli sampai ke akar permasalahan dan gue bersyukur gue dididik sama dia karena gue tau teori itu tapi jarang mengaplikasikan. Dia orangnya gak pandang bulu, gak mentang-mentang gue intern lalu gue diinjak-injak (emang gue sandal?). Setiap saran dan rekomendasi gue (yang udah dia revisi) dia masukin ke monthly report untuk client. Padahal gue pikir saran dari gue samps (Bahasa gawl dari: sampah). Terus dia bahkan pernah nemenin gue nukeran rupiah gue ke dollar untuk keperluan konferensi dan dia rela ikut  rempi bersama. Mo nangis. Hikz. Kak Nisa itu paling ahli bikin orang repot (dalam arti positif loh ya), dia pernah tiba-tiba ngasih tugas, “lo teliti kota ini, Key Opinion Leader (KOL) nya siapa, yang lagi trend disana apa, terus  KOL itu lo cari tau backgroundnya keluarganya prestasinya turning point-nya pokoknya lo ceritain ke gue tentang dia layaknya lo adalah sahabat dia. Gue kasih waktu 2 jam.” Ok sib. Terus waktu gue ceritain hasil temuan gue, dia dengerin sambil masang muka datar dan keep asking me why and when. Dan gue skakmat. Dasar dodol si Icha gak prepare buat ditanya unpredictable questions. Oiya, bahkan gue pernah diseret buat lembur sampai jam 11 malam and at that moment, I was the only internee who did it. Gue rela dibikin repot  kak Nisa because I know she’s right and she’s there to give me experience, something rare to find in other places. Yang repot tapi  bikin seneng adalah kak Nisa ngelatih gue supaya terbiasa make Excel dan rumus-rumus cantiknya which is rarely used juga terakhir make rumus gituan SMA kali. But now I know, dikala temen-temen gue kuliah mungkin lupa vlookup hlookup pivot atau sekedar cara freeze panes, gue bisa tjuy. Kak Nisa juga lumayan sering curhat ke gue tentang kehidupan pribadinya and I highly appreciate it because I know she’s introvert and I know introvert doesn’t trust people easily. Itu juga sih yang gue adore dari kak Nisa, dia introvert tapi dia di kantor lumayan hyperactive as consultant, gue jadi termotivasi dan pengen buktiin juga bahwa  gak mustahil kok bagi introvert untuk bisa stand out layaknya extrovert, untuk jadi konsultan gak harus anak-anak extrovert yang emang demennya nyerocos (I know it’s an offensive word, forgive me for I’m personality-racist).

Setelah gue curhat kalau gue bosen, kak Nisa untungnya sangat mengerti jadi dia memindahkan gue menjadi internee kak Dion cuman sebenernya kak Nisa tetap jadi supervisor utama (intinya gue jadi punya dua scope sekarang karena under 2 orang yang ngurus 2 hal yang berbeda pula, cuman porsi gue ke kak Nisa 30% dan sisanya ke kak Dion) (kenapa gue ampe jelasin make angka-angka sih) (gagal paham). Nah, kak Dion lebih ngajarin gue tentang melihat “masa lalu”  untuk bisa “move on”. Setiap gue ngasih findings, doi pasti nanya “ini kalau dibandingin sama tahun kapan?” atau “udah dibandingin per quarter tahun lalu?” gue jadi gelagapan buka bank data untuk ngubrek-ngubrek masa lalu. Tapi kerja di bawah kak Dion bikin lebih bisa nafas meskipun tugasnya sama banyaknya tapi scope kak Dion gak butuh analisa terlalu dalam, yang penting meluas. Challengenya kerja dibawah kak Dion adalah harus paham baca google analytics. And my  knowledge level about GA: ZERO. Bahkan pernah pas awal kak Dion bilang, “ini datanya ada di GA Cha sebenernya, coba lo buka sekarang gue tunjukkin”. Gue cuman bisa melongo….”GA itu apa kak?” *sambil dengan serampangan dan panik ngeklik folder data dari kak Dion*. Sambil masang muka shock, “ASTAGA GOOGLE ANALYTICS CHA MAAP”. Pas gue buka GA gue cuman bisa melongo lagi, sesabi  itu ya GA itu, segala ada gila hebat amet, tinggal gimana bikin ngolah dan bikin insightnya aja.

Overall, gue senang, batin gue bahagia meski suka bosan dan over exhausted. Terimakasih Mediatrac, to be the first place for me to work as consultant (even as internee). Terimakasih sudah percaya kepada bocah ingusan yang tidak pernah punya pengalaman apa-apa di bidang consulting tapi pengen jadi consultant. Terimakasih kak Nisa yang di hari terakhir gue magang mukanya sedih banget dan bilang “yah…lo jadi intern abadi aja dong Ca disini” (Jadi kayak perbudakan ini mah -_-). Terima kasih kak Dion yang di hari terakhir gue magang malah antusias ngenalin gue dengan dunia indie jpop dan dia berkali-kali bilang, “yah Icha ternyata lo suka kpop jpop juga ya kenapa kita baru ngomongin ini sekarang ya Cha, maafin kita sibuk banget kemarin-kemarin” terus dia ngasih gue dorayaki coklat. Terus keduanya mukanya sumringah banget pas gue kasih kado (dua-duanya isinya boneka kartun Larva, iya emang gue jayus gue tau). Terima kasih Lukman, Rangga, Ryan, Komang, Yantine, Caca, Joan, Farrah, Rahman, Yosan sebagai sesama teman seperjuangan jadi magangers disini, yang menjadi tempat bergosip dan bertukar pikiran. Intinya, terimakasih tempat magang pertama ku J


Nah selanjutnya, gue akan ke Skha Consulting untuk jadi  project based internee selama 2 bulan. Gak tau gimana nasib gue disini tapi disini adalah dream job gue yang sesungguhnya sebelum gue mencapai surga tertinggi para konsultan (for me, its BCG). So, doakan semua baik-baik saja dan gue bisa bertahan disini dan menjadi associate consultant a.k.a. full-timer. User gue 2 orang juga nih, kelihatannya keduanya asik. We’ll see tomorrow lah ya. Udah ah gempor ngetik, I hope you guys have experienced a thrilling life too!

Wednesday, September 30, 2015

Lulus Sarjana! (Part 1)

Rindu sama blog! Udah ditinggal berapa abad ya? Banyak sekali hal-hal yang belum gue curhatin disini ihhhh mau curhat fix (anaknya manja banget ya, mu’up). JADI hmm….mau mulai darimana ya, gue mau marathon cerita dari sejak pas gue konferensi di Thailand, dilanjut sidang, terus gue kelar magang di Mediatrac, dan gue diterima magang di Skha Consulting ya HAHAHAHA panjang amat bu kayak rincian daftar mantan. Mungkin gue akan buat jadi 2 parts ya (CAILAH KAYA BIKIN PELEM) supaya readers gak bosen akut. Intinya kalo tiba-tiba iler menetes tanpa lu sadari, berarti blog gue udah bosenin banget, saatnya ganti ke link yang lain.

Warning: the contents below might be extremely boring, so you’d better close your window when your eyes get irritated, your nose runs a blood, your head seems heavy, and you suffer a sudden and over dramatic hair fall.

Jadi, tanggal 27 Juli sampai kurang lebih seminggu setelahnya, gue menghabiskan waktu di Thailand bersama cindil-cindil bernama Diah, Manda, Bianda,  Devi a.k.a. Depong a.k.a. Pongki, Helga, Sisi, dan Celine. Di post sebelumnya kan rencananya gue mau konferensi di Imperial London ya sama Dara, tapi gue menggugurkan niat gue karena guenya lagi magang di Mediatrac dan gak enak kalau konferensinya jauh-jauh, bisa 2 minggu gue disana buat konferensi plus jalan-jalan terus lupa dengan status gue sebagai magang-er. Jadi, yasudah I lowered my expectation, yang penting konferensi. Di Thailand presentasi konferensinya lancar tapi GAK ADA YANG NANYA hiks sedih oke lah entah topik gue kurang menarik apa gimana *jongkok sambil main tanah dan meratapi nasib* Akhirnya gue membesarkan hati gue dengan ngucap dalam hati: you’r e thesis is beyond sexy and outshine the other’s, they just can’t handle it. Selepas konferensi, layaknya kera dilepas ke hutan rimba, gue pun hura-hura disana bareng teman-teman dengan melancong ke Phi Phi Island dan nyobain snorkeling di tengah cuaca buruk dan gelombang laut yang menderu-deru. Hari itu pertama kalinya dalam hidup gue dimana gue mual naik boat karena emang goyang banget ngehantam ombak segede-gede gunung Kidul. Nah, yang seru itu ketika makan seafood pinggir jalan yang enak dan ditraktir mama Manda yang super baik dan gawl; belanja pakaian murah meriah tapi ala ala anak gawl gitu di Platinum Mall, dengan berbekal bantuan ibu yang jago tawar-menawar (read: Diah), dompet gue sejahtera sekali hidupnya. Terus kami nginep di hostel super artsy yang gue idolakan desain interiornya. Dan tidak lupa, apresiasi terbesar diberikan kepada tut-tut si angkot super hingar bingar yang bikin berasa lagi dugem sampai kami sama sekali gak bisa ngomong satu sama lain di dalem tut-tut karena volumenya berasa lagi di bioskop. Terus sempet jalan-jalan juga ke Bangla Road yang isinya tempat dugem, tempat mabok, dan di jalanan tuh banyak sexy dancers dan PSK yang menawarkan jasa. Gue yang alim ini malah melipir ke tempat crepes and ice cream J Yang paling gue senangi dari Thailand adalah jajanan pasarnya, jadi keinget sama betapa kayanya jajanan pasar Indonesia. Disana gak kalah unik, gue akhirnya nyobain mango sticky rice (yang amat gue cintai karena rasanya sangat gurih dan cuco’ bana) dan coconut ice cream yang disajikan dengan toping kacang, jagung, dan nata de coco. Anyway, berikut beberapa foto pas di Thailand!!!!!  











Di hari terakhir kami di Thailand, langsung pada suram mukanya keinget harus sidang. Dan akhirnya jeblos lah gue sebagai Sarjana Manajemen dari SBM ITB tahun 2015 yang ke 006! Gak usah diceritain ya gimana gue disidang sama Pak D*ddy yang super tegas dan lumayan bikin jantung jatuh ke usus buntu, nanti adik-adik kelas gue yang baca ciut semua nyalinya. In the end, I’m alive and ready for October graduation!




Thursday, June 18, 2015

Magang di Jekardah!



Mumpung hari ini adalah hari pertama puasa dan gue bisa pulang dari kantor lebih awal, it'd be better if I started to blog and posted some shits in here. Padahal sesungguhnya gue baru masuk kerja 3 hari, tapi ngerasa udah banyak suka duka yang dirasakan disini. So, here we go!

Gue magang menjadi Consultant Intern di perusahaan big analysis data pertama di Indonesia, yakni Mediatrac! Jengjengjeng. Buat anak bisnis, mungkin agak jarang yang tau nama perusahaan ini karena emang pada dasarnya ini perusahaan pengolah data which means hubungannya sama teknologi, komputer, dan informatika. Tapi, perusahaan pengolah data mau ngolah data siapa kalo gak punya konsultan? Untuk itulah dibentuk divisi konsultan yang punya kedudukan krusial dibawah Chief Strategy Officer (CSO). Perusahaan ini juga masih tergolong lumayan baru, karena memang baru didirikan tahun 2003 alias baru berumur 12 tahun, masih banyak yang harus dibenahi dan dikembangkan. Kantor yang dulunya cuma punya 1 lantai ini kini telah memperluas kerajaannya menjadi 2 lantai, dimana lantai 1 untuk orang-orang manajemen (termasuk para konsultan) dan lantai 2 khusus untuk anak-anak IT. Nah nuansa dari kedua lantai itu berbeda sekali, kawan. Gue agak bengong juga sih pas nyadar but in the end, it's about balance in work life. Jadi gini, lantai 1 tuh karena isinya orang-orang manajemen, termasuk jajaran BOD dan konsultan maka nuansanya pun terkesan agak hati-hati, agak jaim, agak berwibawa, agak formal, agak serius. Kenapa semuanya serba 'agak'? Karena pada dasarnya disini tuh environmentally fun and friendly. Lu mau bersin kenceng-kenceng selow aja, mau nguap sambil merenggangkan otot juga selow, mau teriak-teriak haha hihi juga gak bakal disuruh diem. Nah bedanya sama lantai 2 yang isinya anak-anak IT, mereka tuh tingkat selownya udah jebol. Dulu bahkan katanya sempet ampe pada main bola di lantai 2. Kabarnya mereka juga sering main PS kalo bosen (lupa info ini masih terjadi apa dulu doang). Terus penampakan anak-anaknya pun agak messy, gak peduli, cengengesan, gak formal-formal amat, dan kayaknya kalo bisa seru-seruan sama mereka bisa ketawa ampe mati.

Lebay deng, gak sampe mati juga.

Nah jadi, gue sama supervisor gue kalo lagi jam istirahat dan suntuk ngeliat laptop terus, ya kita ke atas sekalian makan siang, nonton tv, dan liatin anak-anak IT haha hihi wkwk. Ada sih kenalan sama 1 orang gitu, penampakannya kayak gak tidur berminggu-minggu tapi senyumnya tetap sumringah. Terharu kan gue. Emang disini semua orang berdedikasi banget sama kerjaannya. Padahal mereka banyak yang lulusan universitas ternama luar negeri (which is bisa aja kalau mau kerja di multinational company atau perusahaan konsultasi papan atas) dan bahkan udah pada di-offer sana sini sama perusahaan gede eh ujung-ujungnya ditolak dan milih kerja di Mediatrac. Menurut gue, karena ini emang masih emerging company, tantangannya benar-benar tiada tara dan proses membangun sistemnya itu yang seru. Kita kayak ditantang meningkatkan ini-itu yang kalau kita kerja di perusahaan yang udah gede ya gak bakal dapet. Kita belajar gimana bisa dipercaya sama client, memanfaatkan semua kelebihan dan aset kita untuk gain trust dari client yang pada ujungnya membawa reputasi yang baik juga buat nama perusahaan. Isn't it exotic? I think it really is.

Uniknya lagi, disini pada muda-muda semua lho employeenya. Mungkin sengaja dipilih yang masih muda-muda biar energi dan staminanya masih bisa sekuat horse power buat kerja. But truthfully, kita disini menganut 9 hours of work dan flexibility yang tinggi. Maksudnya kalau kita mau datang jam 12 boleh asal pulang jam 9 malam. Atau bisa juga, datang jam 12 lalu pulang jam 6 tapi sampai rumah/kosan harus nugas sampai jam 9 malam. Intinya yang penting ngerjain tugas dan gak peduli mau ngerjain dimana juga. Terus disini kita gak ada partisi yang ngebatasin kita dari segala sisi (kayak dari seluruh penjuru mata angin), cuman ada partisi yang ngebatasin kiri dan kanan. itupun gak tinggi-tinggi amat. Fungsinya biar kita bisa diskusi seenak jidat tanpa merasa dibatasi dan dikurung sih. Disini gue belajar ningkatin ilmu sosial banget intinya. Harus bisa stand out, kenalan sana sini, sharing knowledge sama mbak-mbak dan mas-mas disini, dan gak boleh ciut ngobrol sama CSO haha. Yang menjabat jadi CSO disini adalah Bu Apsara Herman yang pernah menjabat jadi VP Sales & Marketing Holcim. Baru masuk hari pertama udah diskusiin tentang bisnis gue dan beliau menunjukkan ketertarikan pada bisnis ini. Kedepannya pengen ngobrol-ngobrol lagi sih kalo beliau gak sibuk hehehehe.

Yang menghambat pikiran gue disini cuma 1 sih...TA w piye kabare. Nah, seperti yang gue bilang tadi bahwa working hours disini fleksibel, gue memutuskan setiap Jumat sampai weekend gue akan mengerjakan TA. Lumayan termotivasi nih denger ada teman yang bernama Clarissa juga dan dia udah sidang. GILA BRO LULUSAN PERTAMA SBM 2015!!! AMAZING CLARISSA! Semoga gue bisa ketularan rajinnya deh.

Buat yang penasaran gue ngapain aja disini, jadi gue disini membuat deep analysis dan insight untuk client dengan bimbingan (of course) supervisor gue yang teramat baik dan gemar mengampuni kesalahan umatnya, which is gue, yang demen bertanya. Sebagai anak bisnis yang punya short term memory, gue gak inget rumus VLOOKUP dan HLOOKUP. Gue pun gak tau gimana make Pivot di Excel. Dan gue baru sadar excel tuh bisa lebih dimanfaatkan ketimbang buat bikin tabel doang :') sedih ih Cha. Current project gue adalah bikin monthly report yang informasinya banyak banget dan gue disuruh bikin analysis, insight, key learning, dan recommendation yang bisa bikin gue baru pulang kantor jam setengah 9 haha (tapi masuk jam 10 kok, lumayan bangunnya gak perlu pagi-pagi buta. Ditambah gue ngekos yang mana kosan gue dibelakang kantor gue banget. Lari 3 menit juga nyampe, yeah!). Tapi so far gue survive kok and I will always do. Sejauh ini gue enjoy disini, cuman masih belum 'lentur' aja jadi belum bisa terlalu freak dan jayus (apa harusnya emang dikurang-kurangin ya). Semoga hari-hari gue dan kalian, readers ku tercinta, kedepannya lebih fantastis dan mengejutkan. Sampai jumpa dan terima kasih sudah membaca!

Wednesday, June 03, 2015

My 'Taking Chances' Stories

I scrolled down my twitter posts and found that I've ever written post that sounds like  this: to live my life by taking chances as a new year resolution. And you know what? Sometimes, the best way to make something happens is by writing it down and have faith. That's what I do for 21 years living this life. When I really wanted to be part of School of Business and Management student in ITB, I wrote it down on a piece of paper, decorated it, and glued it in my wardrobe. Yes! It happened! (but of course I also did the hardest work I could afford). Then again, when I wanted to take any chances, I wrote it down in my twitter and................you must continue reading to number 1 ;)

1. I joined Maybank Go Ahead Challenge. I passed the goddamn-hard-online-test, came as a campus level participant in Faculty of Economy, University of Indonesia. But I could only make it till the half round. That's okay I think. At least I took the chance and I went for it.

2. I followed  kinda 'jobs and vacancy account' in twitter and once I applied as consultant internee in Mediatrac, the first big data analysis company in Indonesia. I took the chance and God opened His door for me. I got the acceptance! I was extremely happy at that time! My mom was too! (When I got the phone call, I was at my mom's office). I will start my internship in the middle of June and it will last for 3 months. I'm nobody and never get myself into consulting stuff, but I will soon to be one. I'm closer to my dream to be consultant in prestigious company or set up my own firm. (all hail Negeri Para Bedebah novel! I love Tom! I love his job! And I want to be one! haha). But you know what, by the acceptance of me in this company, means that I need to leave my life in Bandung. I need to leave my boyfriend, my friends, and maybe my business (not it's not literally leaving this business, I still can make a phone to control and handle things but still, yea, you know what I mean). It feels weird to start my working experience in Jakarta. Alone. Facing the crowd. Alone. Facing the traffic jam. Alone. Sometimes those things are scary me.

3. My startup business, Start From The Bottom, will do development by starting to make blouse or outer for our next production. And again, we took the chances when someone in Hong Kong were having curiosity toward our scarves and at the end, he wanted to be our wholesaler which is it's a very great thing! We are startup but we already have 1 foreign customer. In addition, he said he wanted to buy more editions in the future and I think I got enough motivation to continue developing this business. In the near future, I want this business to have some exclusive outlets in several countries (I write it to make it happen. HEHE)

4. I'll  take the chance to have my thesis conference in London, specifically in Imperial College London  with my best friend, Dara Indira. Wish me luck in pursuing it because up until now, I'm still unsatisfied with my thesis. I just think that it needs more variable or something big, something difficult, some mind-blown thing, to make it hilarious. I know, perfectionist.

5. I take the chance to dream......

6. ....that I will have some businesses with my brother and friends and make my own global brand

7. ....that I will work as consultant

8. ....that I will have my own farm in New Zealand (Idk why NZ, but their land is plenty)

9. ....that I will build my modern and futuristic science laboratory, public library, and music conservatory

10. ...that I will have my own yacht and Scania truck cabs

Thursday, March 05, 2015

Dua Ribu Lima Belas!

[Liat-liat draft blog dan menemukan postingan ini belum dipublikasikan haha kasian padahal isinya tentang semangat awal tahun. Gak jelas banget ini sebenernya, gue berasa bertransformasi menjadi sosok petakilan dan tante-tante. Anyway monggo dinikmati :)]

Hai! Kangen nggak? hehehe dateng dateng langsung gak penting ya. Sebelumnya selamat Natal dan Tahun Baru ya, sorry ngilang mulu kerjaannya, sibuk nih eyke *kibas rambut* *keluar kecoa* Nah nah nah jadi kan udah tahun baru nih, daaaan seperti biasa, berhubung jadi orang pelupa banget maka saya putuskan menulis apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi. EHE GAK PENTING.

Bisnis
Gue dan partner sekerja bernama Widya Larasati dan Gerry Julian sedang menggarap sebuah produk aksesoris yang akan di-launch Maret ini rencananya. Saat ini sudah nemu vendor setelah berbulan-bulan susah banget nemu vendor yang bisa nyetak desain diatas kain berukuran 100x100 cm *yah ketebak deh mau bikin apa* Terus tahap selanjutnya kami lagi bikin icons manis syahdu berwujud wanita yang akan menemani setiap teaser dari produk kami. Berhubung aksesoris ini main targetnya adalah cewek, maka gue pun dengan getol membuat resume dari buku Marketing in Venus hasil meminjam dari Gerry. Sejauh ini seru sih! *padahal baru sampe halaman 5* Kerjanya gue kalo lagi ngomongin bisnis ini tuh mau nangis mulu karena gue bisa membayangkan di otak gue bakal se-artsy apa produk ini nantinya, lengkap dengan detil teaser, postingan-postingan di social media, catalogue yang bakal super cute yet artsy, packaging yang kekinian dengan kiblat simplicity, model-model berdarah campuran yang dengan eloknya mengenakan produk ini, membuat kartu nama, membuat nama dan karakter atas setiap icons supaya setiap cewek yang make merasa dirinya berkarakter yang sama dengan icons tersebut, daaan lain lain ah capek ah mau nangis. Kenapa sih mau nangis? karena nyari vendor dan membuat seni yang berkualitas itu susah. Gue yang bermodalkan cuman-bisa-bikin-doodle-hitam-putih ini akhirnya harus nyari bejibun referensi sebelum bikin seni, gak bisa kayak Da Vinci yang kalo lagi ngupil juga bisa dapet inspirasi.

Motivasi
Selanjutnya, sejak masuk kuliah hingga detik ini beberapa teman sering memuji dan mempertanyakan ketekunan dan kegigihan gue. Beberapa dari mereka bilang gue punya self determine yang tinggi, beberapa yang lain bilang gue bisa karena gue multitalent, yang lain bilang gue nerd, dan tidak jarang dari mereka yang kadang "meminta" sebagian ketekunan gue kayak "Cha, gue butuh sedikit aja nih kegigihan kayak elu! Tugas esai seabrek gak kelar-kelaaaar". Lho bukannya mau sombong ya, kalo gue sombong gue gak bakal cerita motivasi dibalik sifat ketekunan dan kerja keras gue. Jadi, gue ini sesungguhnya sangat mudah termotivasi oleh buku! kecewa kan? kok simpel banget Cha?! Ya tapi menurut gue buku itu sangat ampuh mengobarkan semangat juang gue. Contoh buku yang membuat gue bersemangat sukses di SBM dan pilih finance as major: Rich Dad Poor Dad by Robert Kiyosaki dan Unlimited Wealth by Bong Chandra; buku yang membuat gue rela belajar mati-matian, tidak pelit ilmu, dan tak kenal lelah: Supernova- Gelombang by Dee, Give and Take by Adam Grant, dan Peter Nimble and His Fantastic Eyes by Jonathan Auxier; dan yang membuat gue suka dengan seni: Word as Image by Ji Lee, ArtDesk Magazine, Frankie Magazine, dan Let's Draw Magical Color by Umoto. Yang berasa paling ampuh tuh pas ngabisin baca Gelombang sebelum UAS, jujur kegigihan dan kecerdasan Alfa Sagala bikin cinta mati sampai sampai gue tiruin gaya belajarnya siang-malam *meski belum bisa ngalahin pinternya dia* 

Gaya Hidup
Kayaknya gue telat puber deh, gue baru demen rok akhir-akhir ini. Bahkan gue rela merogoh kocek agak banyak demi dapetin floral skirt nya Dorothy Perkins. AHA! Gak cuman itu, gue bahkan seneng banget melototin acara Victoria's Secret documentary di FashionTV, pun juga gue beli parfum dan body lotionnya. Gak cuman itu, gue juga ngebet pengen di-ombre rambutnya tapi bisa gak dianggap anak sama bokap gue, wong gue make kuteks hitam aja dipelototin. Tak hanya itu, sebelum liburan panjang pergantian tahun pun gue dan beberapa teman belanja cosmetics dan piece of cloths yang lagi year end sale ahahahahha ini gue udah agak bertransformasi jadi tante-tante. 

Kucing
Ya, seperti yang beberapa dari kalian sudah tahu, kucing pertama dan tersayang milik saya yang bernama lengkap Rino Affandi telah wafat *lupa bulan apa tanggal berapa* *gamau inget!* *kemudian bercucuran air mata* Waktu pertama dikasih tau dia meninggal, gue spontan langsung nangis bombay bahkan di kantin SBM sampe diliatin temen-temen. Untung ada Freaky yang menghibur, meluk, dan ngasih tissue buat ngelap ingus. Terus mama ngubur dia di taman yang persis menghadap kamar gue. Kadang kalo lagi di Depok, gue suka berharap dia bangkit dari kubur dan ngeong-ngeong manja lagi. Atau malah kadang ngebayangin ngebongkar kuburan dia lagi, siapa tau dia lagi main tanah dibawah sana. Tapi akhirnya gue sadar gue harus realistis. Sekarang, gue hanya bisa berharap Tuhan juga masukin hewan-hewan di surga supaya gue bisa ketemu dia lagi suatu saat nanti *amin* Next target buat jadi kucing peliharaan maunya tipe Scottish Fold ah! *efek ngefollow @rokuthecat di instagram*

Tugas Akhir
Gue dapet dosbing yang gue mauuuuu! YAY YAY YAY TERIMAKASIH TUHAN!



Saturday, February 28, 2015

Set Up a Fashion Accessories Label

Well, so here I am! As happy as a mother give birth to her first child! I just launched my 'child' which is a fashion accessories label, a week ago. It was enchanting to set up something and finally made it. Hard work hard wok hard wok! That's all I have to do since to sell fashion accessories might not be as easy peasy lemon squeezy as selling daily goods. First and last, I really would love to thank Widya and Gerry as my partners to reach my dream (it becomes our dream now! haha). Thank you for always be here and there and wherever this business goes. I believe we can turn this into something stronger and bigger within 3 months. I do really believe and lets make this comes true! However, it still tickles me to recall the memory of our first meeting in Noah's Barn coffee shop, we did away with the fairies to imagine how would be our products look like, who would do the endorsement, and how we got the business' initial capital. Started from that moment we kept living the dream and made some actions; from looked for the bloody-difficult-to-find fabric printing for 100cm x 100cm scarves until arranged a photoshoot with our models and bloody-cool-photographer-friend. Now the endorsement is still undergoing and we also just made distribution to online apparel shop. We just can't give ourselves up to climb the mountain and reach the top no matter how long it will take. 

So, ladies and gents, present to you the fashion accessories label called Start From The Bottom which you'll hear as something popular in the very soon period (amin). In this business lays the dream of the creators as to love and appreciate fashion and art at the same time and through a simple way.

For those who are curious upon the label, you can check our Facebook fan page. Or go to our Instagram account. 






Saturday, February 07, 2015

Letter for the Future of Me

So, am getting influenced by a friend from twitter, @azwitasari, to write a letter for 30 year old self. Of course thing like this happens multiple times in front my eyes, watching people write the letter for the future of selves, but never crossed my mind to make one for my own. So hereby, throughout today’s post, I make an attempt to make one in the ground of it can remind me of what I have to be in the future and who I was back then.

Dear my 30-year-old-self,

I hope you’re still as healthy as I am. I always believe that our body is stronger than an ox’s and the endurance is far beyond normal human. I never get myself hospitalized so I really hope it never happen to you either. But don’t worry; a cup of coffee for a day won’t hurt since I know we love it! I really hope you’re happy with your job and get the best career path ever. Either work as consultant, investor, or manager in multinational company, I hope you can both enjoy your time and suck money excessively for our business capital. Well, forgive my materialism but you’re young lady! I know you could earn much! You have to achieve our dreams! Dad told us not to be the slave of money but create our own money instead. I hope you’ve already prepared the big plan for our fashion and culinary business! I can’t wait to see you decorate every inch of the store. I wonder what will our customers look like, how wide they can afford to smile seeing and feeling our product, and how long they can be as loyal fans of our brand! And, you need to be an investor in the meantime of your career as it was Dad’s dream. Please don’t forget that investor thingy and be the conglomerate of yourself! Phew, sorry for talking too long about your job and career, I know you might journey a stressful and down-hearted moment but be strong! You’re nearer to be free as entrepreneur.

How’s your romance? I hope you finally settle down into our prince charming which by means a Christian, smarter than us, taller than us, a doctor/businessman, loves books and arts, calmer than us, and love us with his bloody whole heart. I hope enjoy your every second with him going to bookstore, choosing what snacks to buy, sharing beds, cooking simple dish, brushing the cat, and else. You know I die in curiosity thinking of what does he look like. In fact, I also wonder the kids! I hope you get enough kids, two is tolerable, but if you have more then it’s still definitely okay. I’m sure you can love your kids with the sweetest way by managing their education and be at their side every time they need you. Enjoying the music orchestra together, visiting art museums, having trip around Asia and Europe; have you done those with them? If no, then you should start now! Above all, I hope you can cook (at least) a simple dish even actually I do really hope you can reach further achievement of cooking a complicated dish in the grounds you are a good wife and mother they believe in (haha! Come on girl!).

How are Dad, Mom, and Rey? I hope they are proud and happy for your life. You are the first child in the family; thus you have to be their pride and I know you have carried it on. Have you given treat by taking them into some cool places like Vatican, Greece, and Maldives? I hope at least to Vatican you’ve ever brought them to. They’ll love that sacred city ever since. And as we know, it’s always a touching moment to see the smiles coming from their faces. Don’t forget to look after your parents and inviting them into your house frequently because Dad and Mom love to enjoy the enormity of your house (even I think they only yearn for time to be with you).

Well, I know you’re tiredly tired. But still keep living the world you want to live in okay? I believe you can reach our dreams and helping people around you. See you on your 40 and be the light among the sea of people.

Love,
Your 20-year-old-self

Thursday, January 29, 2015

Mataku Memerhatikan

Dari dulu hingga sekarang mata ini tetap mengawasi,
Mata ini menyaksikan ratusan siluet datang dan pergi, menangis dan ditangisi, bekerja dan terduduk, bahkan ada yang tersenyum dan terdiam
Semua ditangkap mata dengan jelas hingga keriput mereka pun tak luput,

Ada masa ketika mata ini menyaksikan seseorang pergi dan tak kembali,
Mata melihat hati berduka atasnya,
Namun ia hanya sanggup berbisik, "relakanlah, ia pernah ada untuk menguatkan mu. Kini ia pergi untuk menguatkan dirinya sendiri"

Ada masa ketika mata ini melihat belasan jiwa tertatih-tatih, berpeluh, lalu setelahnya mereka bersorak dan berpesta karena segala sudah usai,
Mata saling menatap dengan yang lain dan berbisik, "kalian yang pernah menang, menangkanlah lagi! Lewatilah ratusan poros kehidupan karena kalian tak akan jatuh!"

Ada masa ketika mata harus merelakan mata di seberang tertutup,
Tidak akan dilihatnya lagi pantulan bayangannya di mata yang lain itu,
Yang ia tahu, raganya mematung, diam, kaku, tak bergeming,
Sambil tertunduk, ia katakan pada kaki, "jalanlah, seberapa susah kamu melangkah, jalanlah. Jalan, itulah arti hidup. Aku disini"

Ada masa ketika mata mengenal sepasang Adam dan Hawa,
Mereka membantunya menafsir hidup,
Mereka mengajaknya berlari, terbang, menyusup, berenang, mendaki,
Rasanya mereka memberi spektrum baru untuk retina,
Rasanya pembuluh darah merekah dan darah mengalir deras,
Ia bahagia!
Mata ini girang bukan main dan tak akan lupa rasanya dibangkitkan hingga ia bersorak, "Andai Tuhan lihat ini, akan dikembalikanNya lagi kalian ke Negeri Eden! Kalian lah kebangkitan ku!"

Ada masa ketika mata ini menangkap gelapnya malam di muka sahabatnya,
Ada masa ketika mata ini melihat keangkuhan,
Ada masa ketika mata ini pantulan bayanga si penipu,
Selalu ada masa bagi mata untuk menjadi saksi,
Dan sekali lagi ia harus tetap memerhatikan



© Ichacho
Maira Gall