8.22.2017

Perkenalan

Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Jadi, saya bermaksud berbagi sedikit cerita tentang siapa dia dan mengapa dia begitu berarti sampai-sampai saya harus membuat satu post khusus di blog ini. Tuhkan, pada melotot ngeliatin layar monitor, hehehe. Biasa aja kali, take it easy. Tarik nafas....hembuskan pelan-pelan. Kita mulai sekarang ya.

Pertama-tama, saya kenalin dulu. Namanya Erico. Nama panjangnya Erico Leonard Hutauruk. Keluarganya panggil dia Ico / Iko. Saya panggil dia Rico. Kalau saya lagi pengen manja sama dia, saya panggil dia Ikobana. Ikobana tuh padahal nama salah satu tenan penjual kain di Pasar Mayestik. Orang yang berkecimpung di dunia fashion pasti tahu haha. Ok skip. Erico itu pasangan saya, yang Tuhan pertemukan secara ajaib melalui sosial media. Saya belum mau ceritain gimana pertemuan kami di sosial media yang ajaib (dan rasanya agak geli kalo diinget) karena rencananya tulisan mengenai itu akan dibuat untuk merayakan anniversary kami nanti (we've been dating for 6 months anyway hehehe). And talking about God, Tuhan itu benar-benar Maha Mengerti ya. Saya awalnya memang punya sederet list kriteria seperti apa pasangan idaman saya, saya akuin hampir semua dari list itu mengarah pada kriteria fisik dan hal-hal yang setelah saya sadari ternyata….agak receh yha. Guess what? Tuhan sempat kasih orang yang memenuhi 9 dari 10 list itu.

AND...
Turned out hubungan saya sama orang itu fana banget.

Kesalahan itu bukan terletak di orang yang Tuhan sodorkan untuk saya, namun di kriteria yang saya panjatkan dalam doa. Saya jadi paham, ketika mendoakan pasangan itu gak boleh main-main dan usahakan jangan terlalu naif. Untuk memiliki hubungan yang dalam dan kuat, selain beralaskan pada Tuhan itu sendiri, juga harus didukung oleh karakter pasangan kita. Dan waktu itu saya lupa berdoa untuk memiliki pasangan dengan karakter yang saya inginkan (dan sekiranya bakal balance sama saya). Setelah berhasil menata hati dan merevisi kriteria. Saya berdoa lagi dan munculah sosok ini di hidup saya (tring!) (kok jadi kayak sulap). Sosok yang mau bersama-sama saling menguatkan di dalam Tuhan. Sosok yang selalu menjadi air ditengah api yang kerap membara di hati saya. Sosok dengan kesabaran yang tak berkesudahan dalam merespon saya yang masih suka jadi drama queen dan childish. Sosok yang menghormati saya sebagai perempuan, termasuk menghargai hak dan cita-cita saya. Sosok yang terbuka dengan berbagai ilmu pengetahuan, termasuk mau belajar memahami dunia dan keilmuan saya. Sosok yang mendorong saya untuk berkembang lebih jauh. Sosok yang gak marah pas saya banyak nanya tentang dunianya, karena baginya dengan kami saling berbagi dan menceritakan dunia kami, in some ways bisa membuat hubungan kami semakin kaya akan makna.

Erico itu keturunan Batak-Cina yang tumbuh besar di Cirebon, kuliah di Yogyakarta, dan kini mengadu nasib di Jakarta. Jujur sepanjang saya hidup, gak pernah kepikiran bisa punya pasangan seorang associate lawyer karena di otak saya yang terbayang ketika dengar pengacara tuh sosok yang kaku, suka berdebat, keras kepala, dan banyak tipu muslihat. Tapi yang bikin saya jatuh cinta adalah he is not like the rest of them, dia seorang praktisi hukum dengan habit yang tidak suka berdebat. Sebaliknya, pendekatannya adalah melalui jalur diskusi dan pemaparan fakta. Dia terapkan itu ketika bekerja maupun ketika lagi berbincang dengan saya. Pembawaannya tenang dan ringan. Termasuk ketika saya lagi sangat emosi sampai menangis, dia tetap tenang, dan melakukan jurus andalannya: ngepuk-puk kepala saya. Kyubi di dalam diri saya pun melunak kalau sudah begitu. Orangnya lugas, jujur, jauh dari tindakan yang penuh tipu muslihat hahaha (udah kayak slogan channel berita).

Oiya, kalau kalian ketemu dia. Mungkin kalian mengira saya lagi pacaran sama anak SMA (padahal, dia 2 tahun lebih tua dari saya!). Dengan muka saya yang juga kayaknya gak dewasa-dewasa amat, mba-mba UNICEF di mall yang minta kami mengisi survey pernah percaya pas saya bilang saya SMP dan dia SMA. Tapi mukanya emang awet muda, entah susuk apa yang dia pakai. Mukanya adem, enak buat diliat lama-lama. Terus nanti saya tiba-tiba malu sendiri karena tanpa sadar saya ngeliatin dia gak pake ngedip. Oiya, satu hal lagi yang khas dari dia, dia itu sangat mencintai Indonesia. Orang yang menghargai leluhur dan budaya bangsa ini. Selain senang nonton siaran ulang pertandingan bola di Youtube, dia juga suka nonton video orang lagi memainkan alat musik daerah.

CAN YOU IMAGINE THAT SORT OF THING? At first, saya juga gagal paham.

Sosok yang inspirasional buat dia adalah Tan Malaka dan Soe Hok Gie. Dan! Kalau dia lagi make baju batik emang gantengnya jadi berkali-kali lipat, cocok banget. Dia juga salah satu kolektor syal dari kain nusantara. Salah satu cita-cita dia tuh bisa ke menjelajahi seluruh pelosok Indonesia dan berkontribusi penuh untuk ibu pertiwinya ini. Dia biasanya bakal agak naik nada bicaranya kalau saya dengan arogan lebih membanggakan negara lain daripada Indonesia (hehehe, ya gimana ya, bitter truth sih emang #teteup). Gak nyangka sih saya yang mindsetnya luar negeri bisa akur sama orang yang nasionalis begini. Namun, segala kekurangan kami selalu bisa diatasi dengan sifat dia yang pengayom dan penyabar, yang eventually menyeret saya untuk mulai berperilaku demikian. Saya gak tahu bagaimana Tuhan membentuk dia melalui kehidupannya yang terdahulu, hingga dia bisa mencapai titik ini. The way he deals with differences, the way he controls fear and anger, the way he solves problems, the way he gives me challenges (to come up with a better solution), the way he radiates positive vibes, all of them are fascinating to me and sometimes even seems beyond common sense. Dia itu kayak manusia yang abis bertapa bertahun-tahun di Gunung Tibet terus keluar-keluar udah jadi "manusia baru". Kadang saya suka berkhayal sih, pengen menjelajahi waktu dimana dia masih lebih muda dan (katanya) nakal. Tapi yang pasti, saya bersyukur dipertemukan sama laki-laki ini ketika dia sudah jauh berubah dan saya juga sudah gak seburuk dulu hehehe. 

Lastly, untuk menutup postingan kali ini, sekali lagi saya ucapkan selamat ulang tahun dari lubuk hati yang terdalam untuk Ikobana. Terima kasih sudah menjadi anak Tuhan yang baik selama ini. Semoga di tahun-tahun selanjutnya Tuhan selalu memberi kamu kekuatan jasmani, hikmat, dan rejeki. Semoga rencana-rencana kamu yang sudah kamu buat, didengar oleh Tuhan dan Ia berkati supaya yang terbaik yang boleh terjadi di hidup mu. Amin!

Note. Dia baru 3x ngomong gini, tapi ini kalimat favorit saya yang selalu bikin terenyuh karena sebelumnya saya (biasanya) habis marah besar atau melakukan tindakan konyol yang bisa bikin dia tersinggung atau sakit hati. But instead of being offended, he said this:
"Aku udah maafin kok sebelum kamu minta maaf"
....And I can truly feel his sincerity.
© A Myriad of Words
Maira Gall