6.02.2013

Setengah Sebelas Kurang Sepuluh

Setengah sebelas kurang sepuluh. Malam. Berangin. Gelap. Hanya lampu meja yang mengiringi jemari ku mendenyut-denyutkan keyboard laptop. Terdengar suara air, anak kamar sebelah sedang mandi rupanya. Malam-malam begini? Apa dia tidak takut kena Reumatic? Sudahlah, lancang sekali aku mempertanyakan apa yang orang sedang lakukan, padahal aku sendiri tidak tahu untuk apa aku melakukan ini. Ah, aku sudah tahu jawabannya, rupanya aku tak sanggup meredam pekikan jeritan hati. Ia meronta, ia bilang aku bedebah yang tak punya otak, ia bilang aku robot tak berperasaan, ia bilang aku diktator, ia bilang aku pembunuh berdarah dingin, ia bilang aku ini monster, ia bilang aku...sudahlah, terlalu banyak opininya tentang ku.  Jujur, semua yang dikatakannya benar, akurasinya nyaris 100%. Dan untuk itulah aku meracau disini, malam ini, mempertanyakan kewarasan ku. Hei, aku masih waras! Tidak pernah sewaras ini sebelumnya, bahkan. Namun, dapat ku perkirakan sedikitnya ratusan neuron otakku saling berbenturan satu sama lain sehingga cara berpikir ku mirip orang gila (atau monster, diktator, bedebah, atau..ah sudahlah).

Banyak hal yang kukhawatirkan. Ya, terlalu banyak. Berkali-kali aku membatin, "jangan banyak berharap pada dunia jika ingin hidupmu damai. Berharap lah pada Pencipta." Namun berkali-kali juga aku gagal. Sehingga berkali-kali pula aku merasa tersayat. Tidak bisakah aku berharap sedikit saja pada dunia? Mengapa harus kekecewaan yang sering melintas? Secara teoretis juga aku tahu aku salah karena mempertanyakan hal yang tidak seharusnya kutanyakan. Tapi aku hanya ingin tahu, mengapa? Mengapa aku harus khawatir, mengapa kecewa, mengapa dunia tidak bisa dipercaya? Apakah dunia selalu salah dan Pencipta selalu benar? (Yang terakhir bukan pertanyaan kok, aku bergurau.) Mengapa dunia menyia-nyiakan kepercayaan ku? Mengapa harus terluka setelah tertawa? Bolehkah aku juga menyia-nyiakan kepercayaan dunia? Kalau aku tidak, mengapa ia boleh? Mengapa curang? Dimana keadilan? Sudah berapa lama ia tertidur lelap dan tidak melihat betapa semua ini jomplang?

Aku merasa tidak ada yang memihak pada ku, meski semut kecil sekalipun, buktinya ia menggerogoti sebungkus biskuit yang ku letakkan di atas meja. Hanya bisa berharap Pencipta mau berteman baik dengan ku, berjalan beriringan sambil bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih. Namun aku takut, orang bilang aku hina, sangat hina, hati ku bilang aku bedebah, orang gila, diktat....sudah lah. Aku takut Pencipta marah, Aku takut sendirian (dan rasanya aku merasa sendirian sekarang). Dalam diam, aku bertanya, "sesungguhnya adalah aku atau Ia yang melepaskan genggaman ini?" Semakin memikirkannya semakin aku tidak menemukan jawabannya.

Tuhkan, aku bisa lihat mulut mu menganga dan mata mu berkedip dinamis. Kamu tidak mengerti apa yang aku bicarakan sedari tadi. Tidak ada yang mengerti dan untuk itu lah kekhawatiran ku semakin bertambah. Jangan heran kalau kau menemukan ku melamun, menatap nanar, atau bahkan muncul dalam fase yang sangat heboh, petakilan, kocar-kacir. Itu karena aku masih tidak tahu harus kemana menumpahkan kesah ku ini. Pencipta sudah mendengarnya berkali-kali, aku takut Ia bosan dan tambah marah pada ku. Lalu, aku menatap jam di dekat lampu belajar. Jam sebelas kurang lima. Saatnya tidur dan menikam racauan ini. Selamat malam.



No comments

Post a Comment

It would be nice to share thoughts, right? Anyway, if you feel attached with my articles and eager to get a quick response, do not hesitate to email me in clarissa.affandi@gmail.com. I will reply as fast I could.

© A Myriad of Words
Maira Gall